Dunia ini Sempit
Dunia ini memang sempit. Saya memiliki teman di kampus,
tahun lalu dia lulus menjadi sarjana dan kini bekerja di Bappenas. Suatu saat
saya mengantarkan kakek saya ke RS Mata Aini di setiabudi, pulangnya kami
singgah di Masjid Sunda Kelapa di bilangan Menteng untuk shalat Dzuhur. Sebelum
pulang kami menyempatkan ke warung makan di sekitar masjid untuk makan siang.
Dicarilah warung makan yang kira-kira kosong, dan mempunyai menu makanan yang
sesuai, karena siang itu tentunya adalah jam istirahat orang-orang kerja.
Akhirnya kami dapatkan warung makan yang agak pojok ke dalam agak sepi dan
letak yang memang kurang strategis. Tak terbayang, setelah memesan makanan dan
menunggu makanan dihidangkan, teman saya yang sudah lulus itu muncul juga untuk
makan siang. Cukup lama tidak bertemu, di warung pojok ini baru ketemu.
Dunia ini memang sempit
Suatu hari di Masjid UI selesai shalat Dzuhur saya bertemu
dengan seorang teman saya seangkatan saat di SMU dulu. Setelah 3 tahun tak
bertemu, di masjid ini baru ketemu, dia sedang menunggu temannya yang sedang
shalat Dzuhur. Seminggu kemudian, tanpa direncanakan saya dengan keluarga
singgah di sebuah fast food di Cilandak, tanpa melihat ke kanan kiri kami duduk
di bangku dan melahap makanan yang kami pesan. Setelah makanan habis saya
lahap, saya menolehkan wajah ke kiri, dan ternyata saya ketemu lagi dengan
teman saya itu. Kami saling tertawa, karena setelah cukup lama kami makan, baru
disadari kami duduk bersebelahan.
Dunia ini memang sempit
Bulan ini saya mengikuti program tahsin di sebuah lembaga di
daerah Condet untuk memperbaiki bacaan Al-qur’an saya. Baru 6 kali pertemuan,
kami bersama murid yang lain sudah cukup akrab dengan pengajar kami. Beliau
sempat menceritakan masa jahiliyahnya, yang kemudian hijrah dan menyukai
belajar Al-Qur’an. Beliau juga sempat menceritakan saudara kembarnya yang
perjalanan hidupnya hampir sama dengan beliau.
Bulan Ramadhan semakin dekat, kami pun diliburkan dan akan
dilanjutkan setelah bulan Ramadhan berakhir. Dan tadi malam saya mengikuti
Tarhib Ramadhan di sebuah lembaga Qur’an lainnya, yang dilanjutkan dengan
mabit. Setelah materi selesai disampaikan oleh seorang ustadz, kami pun bersiap
untuk tidur. Mulai lah kami mengkrabkan diri dengan yang lainnya sambil membagi
kelompok untuk bergantian bertugas jaga malam. Salah seorang ada yang
menghampiri saya yang sedang berbicara dengan teman yang lain, dan menjulurkan
tangan untuk bersalaman. Aha, beliau pengajar yang mengajari saya tahsin,
tetapi setelah saya perhatikan ada perbedaan di wajahnya. Dia lebih putih dan
berjerawat. Saya ingat, dia pasti saudara kembarnya. Akhirnya saya beranikan
diri untuk menegurnya, dan ternyata benar. Beliau adalah ustadz Wahyono saudara
kembar ustadz Wahyudi yang mengajari saya baca Al-Qur’an.
Dunia ini memang sempit.
Apakah semua itu kebetulan? Apakah semua itu takdir? Yang
paling pasti semua itu ada pelajarannya. Ya, hikmah dari semua kejadian yang ada. Dunia ini begitu sempit sebenarnya
Allah ciptakan. Dan tidak selayaknya bagi kita untuk sombong. Karena di dalam
dunia yang sempit ini ternyata masih ada berjuta-juta orang yang belum kita
kenal dan masih banyak ilmu yang belum
kita miliki. Begitu besar Allah Yang Menciptakan dengan firman-firmanNya, walau
dunia yang sempit ini didiami oleh berjuta-juta orang, kemudian dunia ini
disatukan dengan planet-planet yang lain dan dipadukan dengan seluruh jagad
raya ini, maka sepasang bola mata yang kita miliki ini ternyata masih bisa
melihat sekuntum bunga mawar merah dibelahan langit jagad raya ini. Subhaanallah.
Ar-Rahman
: 37, artinya : “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar
seperti (kilapan) minyak.”







