Dunia ini Sempit

Posted on September 21st, 2006 in Uncategorized by fireman0410syah

Dunia ini memang sempit. Saya memiliki teman di kampus,
tahun lalu dia lulus menjadi sarjana dan kini bekerja di Bappenas. Suatu saat
saya mengantarkan kakek saya ke RS Mata Aini di setiabudi, pulangnya kami
singgah di Masjid Sunda Kelapa di bilangan Menteng untuk shalat Dzuhur. Sebelum
pulang kami menyempatkan ke warung makan di sekitar masjid untuk makan siang.
Dicarilah warung makan yang kira-kira kosong, dan mempunyai menu makanan yang
sesuai, karena siang itu tentunya adalah jam istirahat orang-orang kerja.
Akhirnya kami dapatkan warung makan yang agak pojok ke dalam agak sepi dan
letak yang memang kurang strategis. Tak terbayang, setelah memesan makanan dan
menunggu makanan dihidangkan, teman saya yang sudah lulus itu muncul juga untuk
makan siang. Cukup lama tidak bertemu, di warung pojok ini baru ketemu.

Dunia ini memang sempit

Suatu hari di Masjid UI selesai shalat Dzuhur saya bertemu
dengan seorang teman saya seangkatan saat di SMU dulu. Setelah 3 tahun tak
bertemu, di masjid ini baru ketemu, dia sedang menunggu temannya yang sedang
shalat Dzuhur. Seminggu kemudian, tanpa direncanakan saya dengan keluarga
singgah di sebuah fast food di Cilandak, tanpa melihat ke kanan kiri kami duduk
di bangku dan melahap makanan yang kami pesan. Setelah makanan habis saya
lahap, saya menolehkan wajah ke kiri, dan ternyata saya ketemu lagi dengan
teman saya itu. Kami saling tertawa, karena setelah cukup lama kami makan, baru
disadari kami duduk bersebelahan.

Dunia ini memang sempit

Bulan ini saya mengikuti program tahsin di sebuah lembaga di
daerah Condet untuk memperbaiki bacaan Al-qur’an saya. Baru 6 kali pertemuan,
kami bersama murid yang lain sudah cukup akrab dengan pengajar kami. Beliau
sempat menceritakan masa jahiliyahnya, yang kemudian hijrah dan menyukai
belajar Al-Qur’an. Beliau juga sempat menceritakan saudara kembarnya yang
perjalanan hidupnya hampir sama dengan beliau.

Bulan Ramadhan semakin dekat, kami pun diliburkan dan akan
dilanjutkan setelah bulan Ramadhan berakhir. Dan tadi malam saya mengikuti
Tarhib Ramadhan di sebuah lembaga Qur’an lainnya, yang dilanjutkan dengan
mabit. Setelah materi selesai disampaikan oleh seorang ustadz, kami pun bersiap
untuk tidur. Mulai lah kami mengkrabkan diri dengan yang lainnya sambil membagi
kelompok untuk bergantian bertugas jaga malam. Salah seorang ada yang
menghampiri saya yang sedang berbicara dengan teman yang lain, dan menjulurkan
tangan untuk bersalaman. Aha, beliau pengajar yang mengajari saya tahsin,
tetapi setelah saya perhatikan ada perbedaan di wajahnya. Dia lebih putih dan
berjerawat. Saya ingat, dia pasti saudara kembarnya. Akhirnya saya beranikan
diri untuk menegurnya, dan ternyata benar. Beliau adalah ustadz Wahyono saudara
kembar ustadz Wahyudi yang mengajari saya baca Al-Qur’an.

Dunia ini memang sempit.

Apakah semua itu kebetulan? Apakah semua itu takdir? Yang
paling pasti semua itu ada pelajarannya. Ya, hikmah dari semua kejadian yang ada. Dunia ini begitu sempit sebenarnya
Allah ciptakan. Dan tidak selayaknya bagi kita untuk sombong. Karena di dalam
dunia yang sempit ini ternyata masih ada berjuta-juta orang yang belum kita
kenal dan masih banyak ilmu yang belum
kita miliki. Begitu besar Allah Yang Menciptakan dengan firman-firmanNya, walau
dunia yang sempit ini didiami oleh berjuta-juta orang, kemudian dunia ini
disatukan dengan planet-planet yang lain dan dipadukan dengan seluruh jagad
raya ini, maka sepasang bola mata yang kita miliki ini ternyata masih bisa
melihat sekuntum bunga mawar merah dibelahan langit jagad raya ini. Subhaanallah.

 

Redrose_b









Ar-Rahman
: 37, artinya : “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar
seperti (kilapan) minyak.”

H-3

Posted on September 21st, 2006 in About Me by fireman0410syah

Ya h-3 sebelum Ramadhan tiba. Terasa sekali sejak Kau tandai
bulan itu dengan gerhana, Kau tandai masyarakat ini dengan nisfu sya’ban.
Masyarakat yang lebih banyak mewajibkan sunnah, dan mensunnahkan kewajiban.
Terasa sekali, bulan itu penuh. Bulan itu bulat. Ku ikuti terus bulan itu
ketika ku berjalan ke masjid untuk shalat Subuh. Bulan itu semakin menghilang,
bulan setengah, bulan sabit, dan semakin menghilang. Langit itu mencerahkan
wajahnya sehingga bisa ku tatap bulan itu dengan mata telanjang. Langit itu tak
lagi mendung walau sehari sebelumnya hujan telah datang.

Ku gapai fajar menyingsing pun dengan cerahnya. Matahari itu
bulat, dan menampakkan kebulatannya, lagi-lagi dengan mata telanjang. Gairah
fotografer ku menggeliat, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya kamera saku yang
ku punya.

H-3, semakin menyakinkan. Matahari tetap membulat, dan bulan
itu semakin menghilang, dan mungkin sampai awal bulan yang agung itu. Awal
bulan Ramadhan. Ku ingin menggapianya sehingga bisa ku tatap lagi bulan yang semakin
hari semakin menampakkan giginya, walau matahari tak lagi menampakkan
kebulatannya.

Ya Allah, hiasilah hatiku dengan cintaku kepada Ramadhan Mu,
seperti cintanya para Rasul dan sahabatnya mencintai bulan Ramadhan itu.

Dan bangkitkanlah semangat saudaraku untuk bangun shalat
Subuh ke masjid dan menatap bulan yang muncul dan menghilang, dan menatap fajar
yang menyingsing, dengan atau tanpa kebulatannya.

Dan tampakanlah kepada kami kebangkitan Islam di wajah kami,
agar kami semakin rindu untuk bertemu dengan Mu. Amin

TheTruePowerOfWater

Posted on September 4th, 2006 in Books by fireman0410syah

A
B












Kita adalah  Air

Dalam penelitian saya, (Dr. Masaru Emoto) semakin jelas
terlihat bahwa kualitas
air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung
pada informasi yang diterimanya. Hal ini
membuat saya yakin bahwa kita, manusia, juga dipe­ngaruhi oleh informasi yang
kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah: Air.

Pada konsep terbentuknya manusia, telur yang dibuahi 96
%-nya adalah air. Setelah lahir, 80% tubuh seorang
bayi adalah air. Semakin tubuh manusia
berkembang, persentase air berkurang dan
menetap sampai batas 70% ketika manusia
mencapai usia dewasa. Dengan kata lain, selama
ini kita hidup sebagai air. Jadi,
sebenarnya manusia adalah air.

 

Foto Kristal Air

Selama dua bulan
sejak saya (Dr. Masaru Emoto) memintanya (Tn.Ishibasi) untuk mengambil gambar
kristal
air, ia ulangi lagi pekerjaan tersebut berkali-kali dengan
membekukan air lalu me­lihatnya di
mikroskop. Hari berganti hari, namun yang ia temukan hanyalah kekecewaan. Saya menemani­nya menyelesaikan pekerjaan
tersebut hingga larut malam dan mentraktirnya minum sake. Minum Sake kesukaannya
akan membuatnya senang, bahkan mes­ki hasil kerjanya di laboratorium hanya
sedikit.

Saya tidak akan pernah lupa raut wajah
Tn. Ishibashi ketika dengan tergesa-gesa ia keluar dari labo­ratorium dengan
membawa sebuah gambar kristal
air untuk ditunjukkan kepada saya.
Mengingat perilaku kami saat itu, saya sadar bahwa tujuan kami hanyalah murni untuk menyelesaikan tantangan dalam me­ngambil
gambar kristal air. Tn. Ishibashi, yang
sebe­lumnya ragu, mungkin telah terpengaruh oleh
sema­ngat saya sehingga ia menjadi yakin dengan pekerjaan yang kami lakukan. Mungkin karena itulah air menun­jukkan keindahan bentuknya kepada kami. Jika
tujuan kami saat itu untuk memperoleh uang, saya kira air tidak akan merespons semangat keteguhan kami untuk kemudian membentuk kristal.

 

Air Mampu Memahami Kata-kata

Karena percobaan tersebut (Air dengan label
"Terima Kasih" membentuk kristal
heksagonal yang indah, sedangkan air
dengan label "Kamu Bodoh" hanya membentuk pecahan-pecahan kristal) berhasil
meyakinkan saya bahwa teori yang saya
buat (Hipotesis : “Air dapat meyusun kristal dalam bentuk yang berbeda-beda
bergantung informasi yang diterimanya.”) adalah benar, kami mulai memberikan air
berbagai informasi, membekukan air, lalu mengambil gambar kristalnya. Hasilnya sangat
menarik.

54
53

















Kami terus-menerus menemukan bahwa air merespons kata-kata positif dengan membentuk kristal yang indah. Jika air ingin
menunjukkan pera­saan senang, kristalnya akan merekah seperti bunga.

Sebaliknya, jika air diperlihatkan kata-kata
negatif, ia tidak akan membentuk kristal.

Sebagai contoh, ketika kita menunjukkan
kata "Bahagia" kepada
air maka air akan membentuk kristal dengan ukuran seimbang yang
sangat indah seperti potongan permata. Sebaliknya,
air yang diperlihatkan kata "Tidak
Bahagia" akan menghasilkan pecahan kris­tal dengan ukuran yang tidak seimbang. Kelihatan­nya air yang diperlihatkan kata "Tidak Bahagia" terse­but
telah berusaha keras untuk membentuk kristal, namun ia kehabisan tenaga karena
kebahagiaan menghilang dari air tersebut.

Kami lanjutkan percobaan dengan
memperlihat­kan dua kata
yang berlawanan makna pada air yang
sama: "Bagus" lawan "Tidak
Bagus", "Suka" lawan "Tidak Suka", "Kuat"
lawan "Lemah", "Malaikat" lawan "Iblis", dan
"Damai" lawan "Perang". Tidak terbentuk kristal. Air
hanya membentuk kristal jika ia diperlihat­kan
kata-kata yang positif.

5556




















Hal yang menarik adalah air akan merespons kata-kata asing dalam bentuk kristal yang
serupa tetapi tidak sama dengan jika air diperlihatkan kata­-kata dalam bahasa Jepang. Air
membentuk kristal yang indah terhadap kata-kata bermakna ungkapan terima
kasih dalam berbagai bahasa, seperti kata
thank you (Inggris), duoxie (Cina), merci (Perancis), danke (Jerman), grazie (Italia), dan kamusamunida
(Korea). (Lihat Gambar 1.5)

Air
kiranya benar-benar dapat memahami maksud dari
kata yang diperlihatkan-dalam hal ini, air
merasa­kan akan adanya rasa terima kasih dan
kemudian membawa informasi yang diterima
ke dalam dirinya. Air mengenali kata
tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Saat air sadar bahwa kata yang diperlihatkan membawa informasi yang baik maka air akan membentuk
kristal. Mungkin juga air dapat merasakan
perasaan orang yang menulis kata
tersebut.

Suatu ketika, saat kami sedang memperlihatkan kata-kata ke air dan lalu mengambil
gambar kristal-­kristalnya, mata saya terfokus pada salah satu gambar kristal.

Bentuk kristal tersebut lebih indah daripada kristal­-kristal
lain yang pernah saya lihat. Saya sangat terpesona akan keindahannya. Kristal ini
merekah luar biasa laksana setangkai bunga yang sedang mekar penuh. Kristal ini seakan ingin menggambarkan gerakan tangan air
yang sedang mengekspresikan kenikmatannya.
Kata-kata yang kami berikan ke air
ini adalah "Cinta dan Terima
Kasih".

57





Sejak peristiwa itu, kami berbicara ke air dalam berbagai
kata, menunjukkannya gambar-gambar yang indah,
dan memperdengarkan musik yang mengan­dung
unsur pengobatan. Namun, kami tidak pernah menemukan gambar kristal seindah
gambar kristal yang terbentuk dari kata
"Cinta dan Terima Kasih."

Bagi air, kata "Cinta.
dan Terima Kasih" pastilah informasi paling baik yang ia terima.

Kutipan
dari
buku The
True Power of Water hal 2-3,13-17,53-57
karangan
Masaru Emoto
penerbit MQ
Publishing.

Firmansyah berikrar

Posted on September 4th, 2006 in About Me by fireman0410syah

Saya Firmansyah, hari ini tanggal 1 Juni 2006 berikrar untuk terus berkontribusi dalam menegakkan syariat Islam di muka bumi ini, karena itu adalah jalan menuju surga Allah yang saya akan temui Allah swt didalamnya, dan itu adalah jalan untuk mati dalam khusnul khotimah, sehingga saya harus memiliki ilmu yang bermanfaat untuk diamalkan, agar dengan ilmu itu saya dapat terbantu dalam menegakkan syariat Islam, mensyiarkan Islam, mengajarkan Islam yang rahmatan lilalamin dan dengan ilmu itu saya dapat mencari harta yang halal, sehingga saya memiliki harta yang berlimpah dan bermanfaat, agar dengan harta itu saya dapat terbantu untuk menegakkan syariat Islam, dan dengan harta itu saya dapat membantu mensejahterakan kehidupan rumah tangga, keluarga, lingkungan sekitar yang terdekat, melalui yayasan yang akan saya buat atau melalui sumbangan-sumbangan yang akan saya alirkan kepada orang-orang yang berhak, sehingga saya harus memiliki banyak anak yang soleh, agar dengan anak ini saya memiliki kader pasti sebagai agent of change untuk membuat peradaban baru yang lebih baik, dan dengan anak ini saya terbantu dalam menegakkan syariat Islam, sehingga saya juga harus memiliki istri yang soleh pula untuk melahirkan anak-anak yang soleh, dan membantu saya untuk membentuk keluarga sakinah yang mawadah warahmah, sehingga sebuah keluarga terbentuk sebagai bibit dari keluarga-keluarga yang akan membantu menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Maka dalam jangka 2 tahun kedepan target yang harus saya capai adalah lulus 5 tahun, dengan IPK min 3, berpenghasilan minimal 1,5 juta dan nikah di umur 23. Serta sudah mempunyai sejumlah hasil sebagai bentuk kontribusi dalam menegakkan syariat Islam. Allahu Akbar !!!!!!

Jadi kalau di list targetan kedepan :

  1. Bertemu dengan Allah
  2. Masuk Surga
  3. Meninggal dalam Khusnul Khotimah
  4. Memiliki Harta berlimpah yang bermanfaat
  5. Memiliki Ilmu yang diamalkan
  6. Memiliki anak min 5 orang yang soleh
  7. Memiliki istri yang soleh pada umur 23
  8. Mempunyai sejumlah hasil dalam menegakkan syariat Islam
  9. Berpenghasilan minimal 1,5 juta dalam 2 tahun ini
  10. Lulus 5 tahun IPK min 3
  11. Khatam Alqur’an di bulan sya`ban
  12. Khatam Alqur’an di bulan Ramadhan
  13. Hapal surat pendek dari Ad-Dhuha sampai AnNas dengan tartil; ada yang belum ikut program tahsin? saya sarankan untuk ikut. karena setelah bertahun-tahun ternyata bacaan saya banyak yang salah. saya sarankan ikut yang menggunakan metode utsmani.
  14. ujian tengah semester ini dapat nilai yang memuaskan

Allahu Akbar!!!

dan ikrar Anda adalah??????

1 Januari 2007

Tujuan itu penting dan evaluasi itu juga penting

1.      Umur 30 tahun sudah hafal Al-Qur`an.

Umur saya sekarang 21 tahun. Satu hari diluangkan waktu 1 jam untuk menghafal 15 baris selama 5 tahun. Empat tahun dilakukan untuk menata hafalan sampai semua benar-benar dihafal 30 juz,114 surat.

2.      Tanggal 1 Januari 2008, saya sudah menguasai Bahasa Inggris, minimal reading and writing.

Satu tahun, atau 52 minggu, kira-kira 15 menit setiap hari diluangkan waktu untuk membaca, menghafalkan, menuliskan, dan mempraktikan sampai semua benar-benar dikuasai.

3.      Semester 8 mendapat IPs 4.

4.      Tanggal 1 Februari sudah hafal juz 30 Al-Qur`an.