Saya pacaran…

Posted on November 16th, 2006 in About Me by fireman0410syah

“Elu ga pacaran Man ?”

Kaget juga dia menanyakan hal itu, kemudian saya menjawab sekenanya, yang ada di pikiran saya saat itu, tetapi setelah saya pikir-pikir memang itulah jawaban saya yang sebenarnya, saat itu.

“Gua masih dihidupin orang, masa’ mau ngidupin orang. Elu masih disekolahin, masih dikasih jajan, masih minta makan ama orang tua, tapi udah mau ngasih makan orang, mau ngasih jajan orang, lucu kan…Pacaran cuma ngabisin uang doang.”

”Ga semua kali Man, ga semua cewe kayak gitu…buktinya gua ga kayak gitu…”

Jreng..eng..ing..eng..saya dan mungkin pembaca sekalian mengerti maksud arah pernyataan perempuan ini. Tetapi saya tidak bermaksud ge-er untuk hal ini. Saya pun tetap menjawab seadanya.

”Ya ga lucu kan kalo pacaran cuma ngobrol doang, cuma ketemuan doang, curhat-curhatan, pasti dong pergi kemana, jalan kemana, makan bareng dimana gitu. Ga enak kan kalo gua ga bayarin ongkosnya, gua beliin makanan dan minumannya. Kalo emang ada cewe yang ga begitu, perasaan gua tetep aja ga enak dong kalo gua ga beliin dan ongkosin.”

Sebelumnya dia sudah mengatakan kalau saja tidak semua perempuan mau dibayarin makanannya atau diongkosin, termasuk dia, sedang dia sendiri pernah dipelorotin oleh pacarnya untuk membayar makanan yang dipesan berdua. (kacian ya..ga cuman sekali men-red)

Tahun 2002 dialog di atas terjadi dan itulah saya dengan pendapat saya dan perasaan saya tentang pacaran. Andai isi kantong saya saat itu tidak setebal seperti sekarang ini, mungkin saya sudah menjadi playboy kelas kakap.

Kisah berlanjut, pertengahan tahun 2003 saya lulus SMA dan pendapat saya tentang pacaran masih sama. Tetapi saya laki-laki normal, dengan naluri lelakinya. Lirik sana, lirik sini, menaksir seseorang, pasti ada. Bohong, kalau Anda para lelaki tidak pernah seperti ini. Hanya modal tidak tahu malu saja yang membuat saya bisa pacaran saat itu.

Pernah suatu kali saudara sepupu saya yang sudah menikah menanyakan, ”Sudah punya pacar, Man”

”Belum,” lho kok belum, mau punya dong, ”nanti saja kalau sudah nikah baru pacaran.” oooh.

Ternyata saudara saya ini salah paham, ”Jangan dengerin omongan kakak mu ini.” kebetulan ada adik saya di sebelah saya. Dia menganggap bahwa saya akan main perempuan nanti sesudah nikah, sudah punya istri tetapi tetap pacaran dengan perempuan lain. Tentulah yang saya maksudkan tidak seperti itu. Yang saya maksudkan adalah perbuatan pacaran yang biasa dilakukan orang-orang sebelum menikah, akan saya lakukan setelah menikah, tentunya dengan istri saya. Sayang, belum sempat saya menjelaskan, dia sudah berlalu pergi.

Masuk kuliah, ekonomi meningkat, maju mundur saya untuk pacaran, dekat dengan beberapa perempuan, menganggu perasaan juga. Tak tahulah apa yang terjadi jika keasyikan saya untuk mengenal lebih jauh tentang Islam terhenti saat itu. Ilmu bertambah, pengetahuan bertambah, pendapat saya tentang pacaran pun tidak hanya sebatas ngongkosin dan bayarin, tetapi lebih dari itu. Teman-teman yang tetap saling menjaga, saling menasehati, dan lingkungan yang kondusif juga membuat saya terhindar dari kata-kata ’pacaran’.

Saya temukanlah sepotong ayat,

”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’:32)

Hilanglah semua cara agar bagaimana tetap pacaran tetapi tidak melanggar syariat agama. Karena hal ini tidak mungkin, istilah pacaran Islami, juga tidak mungkin. Wong yang dilarang itu bukan saja zinanya, tetapi hal-hal yang mendekati zina juga dilarang. Mau seperti apapun tindakan kita dalam menjaga hubungan dengan perempuan, kalau sudah mengarah pada perbuatan mendekati zina, dosa hukumnya. Titik. Jangankan perbuatan, baru memandang saja, sudah masuk kategori zina mata.

Jadilah saya seorang high quality jomblo sejati. Tentunya tetap memerlukan penjagaan dari teman-teman. Karena kalau tidak, bisa kebablasan.

Suatu saat saya akan punya kekasih bukan hanya pacar, dan tidak hanya satu tetapi empat bahkan bisa saja lebih. Insya Allah

                                                                                                                                Imang BA

http://fireman0410.blogspot.com/2006/01/aku-dan-4-kekasihku.html

Mau Beli Rumah??

Posted on November 15th, 2006 in About Me by fireman0410syah

Aduhai…..aduh CAntiknya…

Posted on November 14th, 2006 in About Me by fireman0410syah

Aduhai, aduhai, berulangkali hati
ini mengatakan aduhai.

Dulu, ceritanya dulu nih, saat saya
SD sedikit sekali teman perempuan saya yang cantik. Bisa dihitung pakai jari
tangan kiri lah, tidak perlu pakai tangan kanan, bahkan kalau ada satu pun sudah
syukur. Sekarang mata memandang ke kanan, ke kiri, bahkan tidak bermaksud
memandang saja, ada saja yang melintas di depan mata perempuan-perempuan cantik
berkeliaran. Mang kenapa ?

(sebenarnya saya bingung bahasa Indonesia baku sekarang ini apa,
“mengapa” atau “kenapa” yang benar? Begitu juga “dulu”, setahu saya yang benar
adalah “Dahulu” dan “Mengapa”, tetapi karena masyarakat biasa menggunakan
“dulu” dan “kenapa”, jadi saya gunakan kata-kata ini sajalah)

Kenapa ya, ehmmm karena mereka
cantik.

Sang cantik ini benar-benar
cantiknya, sampai-sampai seperti baru melihat bidadari-bidadari yang sedang
tersesat di bumi. Dalam sebuah dialog imajiner saya bercakap-cakap,

“Wahai
bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu dan
menggaulimu?”

“Oh
tentu, mari kita cari tempat yang cocok untuk kita berdua.”

Setelah
puas dengan bidadari ini, aku pun melihat bidadari lain yang tentu tak sengaja
ku melihat, kemudian ku menyampaikan hasrat,

“Wahai
bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan
menggaulimu?”

“Ohh,
aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh menggauliku apalagi belum
ku kenal seperti kamu.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau
lebih jauh, cantik?”

Sang
bidadari pun menganggukkan kepalanya, dan aku pun bisa mengenalinya lebih dalam
lagi, sehingga bisa ku rayu dirinya untuk ku cumbu, dan ku gauli, kemudian ku
tinggalkan setelah ku puas dengannya.

Aku
pun bertemu kembali dengan bidadari yang lain yang tak kalah cantiknya,
kemudian aku mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai
bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan
menggaulimu?”

“Enak
saja, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh mencumbu dan menggauliku
apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Aku
ingin mengenal engkau, cantik. Boleh kah itu?”

“Oh
tentu.”

Aku
pun mengenalnya lebih jauh dan aku berhasil meraba dan mencumbunya tetapi ia
menolak ketika aku ingin gauli, setelah aku bosan mencumbunya, aku tinggalkan dia. Kali ini ku
dapati seorang bidadari yang lebih cantik dari yang lainnya, aku pun mengajukan
pertanyaan yang sama,

“Wahai
bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan
menggaulimu?”

“Aku
ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh meraba dn mencumbuiku apalagi menggauliku
lebih-lebih engkau belum ku kenal.”

“Kalau
begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Boleh
aja sih.”

Akhirnya
aku mengenalinya lebih jauh, tetapi aku hanya berhasil merabanya saja walau
awalnya hanya tangannya saja yang mau diraba, dia menolak ketika ku ajak untuk
bercumbu apalagi ku gauli. Aku pun cepat bosan dengannya dan ku tinggalkan dia,
sebenarnya sulit untuk melepaskannya, karena dia lebih cantik dari yang
lainnya. Tapi aku yakin masih banyak bidadari yang lebih cantik darinya.

Benar
adanya, ku temui bidadari yang lebih cantik lagi, dan aku ajukan pertanyaan
yang sama,

“Wahai
bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan
menggaulimu?”

“Tak
semudah itu orang boleh merabaku apalagi mencumbu dan menggauliku, aku sendiri
belum mengenal engkau wahai pemuda. Aku ini punya harga diri dan kehormatan.”

“Kalau
begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Oh
tentu.”

Aku
pun mengenalnya lebih jauh, tetapi sayang, jangankan merabanya, memegang
tangannya saja dia menolak, apalagi untuk kucumbu dan kugauli. Akh, rasanya
ingin kembali saja aku ke bidadari pertama yang kutemui, karena aku ini punya
nafsu dan harus ku lampiaskan, dan akalku hanya mampu mengelebui bidadari kedua
yang kutemui untuk ku gauli. Aku tidak menyalahkan engkau wahai para bidadari
karena kecantikanmu, mungkin saja nafsu ku tidak terlalu besar untuk
menggaulimu kalau saja kau tak menjajakan tubuhmu, kau tak memperlihatkan
kecantikanmu kecuali pada orang yang kau kehendaki. Bohong, bohong besar kalau
aku menyukaimu tanpa bernafsu padamu. Karena yang kau perlihatkan adalah
tubuhmu yang aduhai, bukan hatimu yang sejuk dan perasaan yang lembut, serta
imanmu yang kokoh. Aku, aku adalah lelaki, yang pantang menyerah memikatmu
wahai sang cantik (kok kayak lagu ya-red), karena aku punya nafsu terhadapmu
yang mengumbar nafsu. Selagi engkau mengumbar nafsu, maka tak akan berhenti aku
gunakan akalku untuk melampiaskan nafsuku terhadapmu.

Sungguh saya geli sekaligus takut membaca
dialog ini. Kejadian dan dialog di atas tentu hanya bisa saya dapat di surga kelak,
Insya Allah, apabila saya bertemu dengan para bidadari di sana.

Tetapi dialog ini benar-benar lepas dan
gamblang, sesuai yang terjadi dengan kenyataan yang ada sekarang ini dan
benar-benar ada. Makanya saya benar-benar takut akan pandangan mata saya ini
yang di kanan dan kiri saya selalu ada perempuan pengumbar nafsu dan semakin
primitif yang setiap saat selalu menyempitkan pakaiannya.

Lain hal kalau kita sama-sama sadar
dan menggunakan akal kita, perempuan menggunakan akalnya, dan laki-laki
menggunakan akalnya. Mudah, dan masuk diakal.

Para perempuan harus mengerti bahwa mereka lah pembangkit hawa nafsu laki-laki, jadi
jangan mengumbar aurat, tutuplah aurat itu.

Para lelaki juga harus mengerti akan bahaya zina, dosa besar hukumnya, berarti harus
dijauhi, jangan didekati, perbanyak aktivitas, perbanyak dzikir, shalat, dan
puasa. Insya Allah itu akan mengendalikan nafsu para lelaki.

Semuanya harus seimbang. Ada perempuan yang
menutup aurat, tetapi lelaki tidak menggunakan akalnya, habislah perempuan itu
diperkosa. laki-laki
rajin shalat dan puasa, tetapi si perempuan terus mengumbar aurat bahkan terus
mempercantik diri dan mempersempit baju kemudian seolah-olah menawarkan diri
(walau tidak sebenarnya), tergodalah laki-laki, jadilah mereka berzina.
Dua-duanya jadi sama-sama berdosa.

Sungguh benar adanya, di dalam
Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang
beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang
beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka,
atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam,
atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Sungguh beruntung orang yan
mengharapkan surga dan menghindari neraka karena di dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.”

Dan dalam An-Nisa ayat
124. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan
mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Mudah-mudahan kita akan bertemu di
surga kelak. Amin

                                                                                                                                                                                                                                                                               Imang, Jakarta

http://fireman0410.blogspot.com/2006/06/wanita.html

 

Di Sore Hari itu…

Posted on November 14th, 2006 in About Me by fireman0410syah

Yesi, yang satu ini cukup pendiam dan penurut. Sifatnya yang baik menjadi lengkap dengan kebiasaannya yang suka membantu teman lainnya. Otaknya yang cerdas juga terlihat ketika pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan berhasil dijawab olehnya.

Retty dan renny dua orang kembar ini juga cerdas, terlihat dari kuis yang diberikan hanya mereka berdua yang mendapat menjawab soal lebih banyak, masing-masing benar 4 dan 5 soal, sedang yang lainnya ada juga yang tidak bisa menjawab dari 10 pertanyaan pada kuis tersebut.

Azis, umurnya yang lebih tua dari yang lainnya menjadikan dia merasa lebih tau akan materi yang disampaikan, walau sebenarnya tidak seperti itu keadaannya.

Hadli, sedikit lebih muda dari Azis tetapi dia lebih bijak dari yang lainnya, pemahamannya pun lebih atas berbagai materi yang disampaikan, jiwa pemimpinnya pun lebih terlihat, tak heran kalau dia yang sering ditunjuk untuk memimpin shalat Ashar dan lainnya.

Masih banyak lagi yang lainnnya, dengan berbagai sifatnya yang unik. Anak-anak tempat TPA saya mengajar ini memang baru tumbuh berkembang, tapi dari berbagai sifat yang ada itu saya yakini adalah hasil bentukan dari ajaran keluarga, lingkungan dan pendidikan yang dia terima.

Annisa misalnya, suatu saat dia curhat ke saya, walau tanpa malu didengar teman-temannya yang duduk disebelahnya. Dia bercerita tentang senangnya perasaannya karena ada yang menaksirnya di suatu acara keluarga, walau sebenarnya dari cerita yang dia sampaikan, saya menangkap bahwa dia hanya terlalu GR (apa ya singkatannya-red) karena ada yang memerhatikannya. Dia juga bercerita tentang rasa sakit hatinya diejek oleh temannya dengan suatu hal yang tidak masuk akal, kemudian saya pun memberi jawaban yang mudah-mudahan dimengerti olehnya. Tetapi ceritanya terus berlanjut tentang rasa sakit hatinya walau saya sudah menutup pembicaraan, kadang inilah kebiasaan anak kecil, akhirnya saya pun memberikan jawaban yang berulang-ulang bahwa orang yang sabar akan di sayang oleh Allah.

Yang lainnya lagi beragam, ada yang layaknya seorang pencinta gravity yang melukis ditembok-tembok, bedanya dia menggambar di setiap halaman belakang bukunya yang kosong bahkan di belakang tasnya atau di lembar laporan hapalannya.

Ada juga yang pembohong, yang saya maksud pembohong ini adalah pembohong tulen, benar-benar kental pembohongnya, bahkan mendekati licik, walau sudah ketahuan kebohongannya maka dia akan berlanjut ke kebohongan selanjutnya, ketahuan lagi bohong lagi, sampai saya hanya bisa tersenyum padanya. Sifatnya yang pembohong saya lihat dari ketidakterimaannya akan kelebihan orang lain, dia akan terus berbohong sampai dia menjadi lebih hebat dari yang lainnya. Masih banyak lagi yang lain.

Karakter mereka terbentuk dari apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka pahami. Kecerdasan mereka mempengaruhi, daya tangkap mereka tentunya berbeda, tapi yang lebih mempengaruhi lagi adalah lingkungan tempat mereka biasa beradaptasi. Orang tua adalah kunci terakhir bagaimana karakter anak bisa terbentuk. Sebaik apapun keadaan tempat mereka tinggal tapi kalau orang tua tidak bisa memprotectnya atau memberi arahan tentang mana yang benar dan yang salah, tentunya si anak akan terus mengikuti nalurinya sebagai anak kecil. Kalau kata teman saya, seperti air mengalir, apa yang bisa diikuti akan diikuti oleh anak kecil. Melihat tontonan di televisi tentang smackdown, ramailah seisi kelas membicarakan hal itu, mendengar lelaki buaya darat yang dialunkan, terbentuklah di otak mereka bahwa semua lelaki adalah buaya darat, bahkan kata-kata jablai pun serasa lumrah untuk disebutkan oleh seorang anak kecil. Itu baru dari televisi, bagaimana kalau dari teman sekolahnya, atau lainnya. Sebaliknya sejelek apapun keadaan tempat mereka tinggal, maka orang tua lah yang bertanggung jawab atas terbentuknya karakter anak akan menjadi baik atau buruk.

Analisa saya ini hanya berdasarkan pengamatan saya dari berbagai anak yang saya perhatikan termasuk dari diri saya yang dibesarkan oleh keluarga saya.

Lepas dari itu semua. Wah rasanya bagaimana menghadapi anak kecil. Mudah tapi sulit, sulit tapi mudah. Pokoknya dibuat mudah sajalah. Karena kenikmatan yang tiada tara ketika selesai menghadapi mereka. Setelah memikirkan tugas, kewajiban, menggapai cita-cita yang tidak kesampaian, mengejar target yang setinggi langit, menjadikan diri kita merasa kerdil, tua dan tak bernyali, kemudian menghadapi jiwa-jiwa lugu, polos, ada tangis, canda, tawa, keriangan, walau kadang semrawutan. Rasanya jiwa ini seperti bangkit dari kubur, terlahir kembali untuk menggapai masa depan yang mungkin masih panjang, menanam benih pencerdasan untuk menciptakan generasi yang lebih segar, bersih dan bertanggung jawab. Akh, rasanya menjadi berat lagi tanggung jawab ini setelah semua ini diketik, jadi teringat ucapan Hasan Al-Banna, bahwa seandainya beliau bisa mendakwahkan setiap bayi yang lahir di muka bumi ini, maka akan beliau lakukan. Benar adanya kata-kata beliau bahwa kewajiban kita ini lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Tapi itulah Allah dengan keMahaBesaranNya menciptakan manusia dengan kemampuannya masing-masing. Dari situlah ukhuwah (persaudaraan) tercipta, dari situlah khairu ummah (umat terbaik) terbentuk. Allahu Akbar !!!

Anda paham dua kalimat terakhir saya dan hubungannya dengan cerita saya di atas, kalau paham, maka tujuan hidup kita memang sama.

Paradigma

Posted on November 11th, 2006 in Uncategorized by fireman0410syah

paradigma
ya paradigma, kerangka berpikir, frame berpikir, sudut pandang, cara pandang, metafora, atau apalah itu namanya, tapi biasa saya menyebutnya paradigma.
ya paradigma, harus kita arahkan pada arah yang selalu  positif
tindakan kita, sikap kita, gerakan kita, yang menuju tujuan kita, harus mempunyai paradigma yang jelas, yang positif.
"belajar di teknik sipil itu susah"
jelas itu sebuah paradigma yang salah yang selalu ditanamkan oleh para senior kepada juniornya, jelas itu harus dirubah.
"buktinya jarang yang lulus cepet 4 tahun"
itulah sebuah paradigma yang dibentuk, sehingga membuat seseorang yang kuliah di teknik sipil merasa wajar-wajar saja kalau lulus lebih dari 4 tahun.
anda menangkap maksud saya???
orang yang kuliah di kedokteran mengatakan, di kedokteran itu susah…
orang yang kuliah di fakultas ekonomi mengatakan,di fakultas ekonomi  itu susah…
orang yang susah berada di suatu tempat mengatakan,di tempat ini susah…
paradigma itu terbentuk, tanpa melihat sudut pandang yang lain dengan cara pandang yang berbeda, dan membentuk frame berpikir yang kreatif.
belajar bahasa inggris itu susah
sebuah paradigma
lalu bagaimana merubah paradigma itu sendiri ???
memang tidak semua paradigma atau cara berpikir kita itu harus dirubah, tapi coba lihat gambaran di atas, apakah harus dipertahankan paradigma seperti itu.
dan paradigma yang harus dirubah adalah paradigma negatif.
kata temen saya, "saya perfectionis"
tidak masalah, asal bisa dikendalikan pandangan itu pada dirinya, sehingga menimbulkan disiplin diri membentuk sebuah kepribadian yang berkarakter, jangan sampai menimbulkan kesombongan yang membuat orang tak suka padanya
kata teman saya yang lain, "saya ini pelupa"
apa iya terus berdiam diri menjadi pelupa. itu negatif, ya harus dirubah.
merubah paradigma, ya merubah cara berpikir, merubah sudut pandang terhadap sesuatu dengan cara pandang yang berbeda, merubah sebuah kebiasaan, dengan melakukan kebiasaan yang lain yang lebih menarik dan tentunya positif. merubah tingkah laku, sikap atau tindakan kita menjadi lebih baik, sesuai dengan perrubahan paradigma yang kita inginkan.
masih belum mengerti maksud saya??
cobalah sebutkan paradigma anda yang negatif, dan perlu dirubah, saya akan rubah…..
tentunya dengan bantuan anda dan Allah tentunya….
insya Allah