Presiden itu Tewas

Posted on December 30th, 2006 in Cerpen by fireman0410syah

    Kepalanya pun tertembak. Puluhan pasang mata terbelalak tak lebih dari satu detik mengarah kepadanya. Sang istri pun berteriak histeris dan menangis memeluk tubuhnya. Para ajudan dengan cepat berusaha mengeluarkan senjatanya dari balik jasnya. Akan tetapi para tentara kita lebih cepat bertindak, samarannya sebagai Pasukan Pengaman Presiden dan pendamping para menteri, dengan sigap sambil menodongkan senjatanya, salah satu dari mereka berucap, ”Letakkan senjata, atau kami tembak!”
    Mereka pun meletakkan senjatanya.
    Tiga detik terasa begitu lama, para wartawan sudah diperintahkan untuk tidak mengambil gambar dan diperintahkan untuk meletakkan alat-alat yang mereka bawa. Di luar sana senjata yang dimiliki oleh bule-bule itu sudah dilucuti. Termasuk senjata yang dimiliki oleh agen-agen CIA dan FBI, dari yang mendampingi Presiden Amerika Serikat George W Bush di Bogor sampai yang berjaga di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta.
    ”Kalian diberi kesempatan untuk membawa mayat presiden kalian, kalian akan dibimbing oleh tentara kami sampai di pesawat kalian di Bandara Halim” ujar Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin langsung pembunuhan itu. Dua buah peluru bersarang di kepala tamu negara itu. Tamu negara dari negara adidaya yang menjemput mautnya.
    Sampai tulisan ini diketik belum jelas alasan pembunuhan tersebut. Yang pasti semuanya sudah direncanakan dengan baik. Dari rencana kunjungan Bush ke Indonesia, pertemuan di Konferensi Tingkat Tinggi APEC, Vietnam, sampai pada persiapan keamanan kedatangan Bush di Bogor. Tak ada ucapan dan teriakan kecuali dari sang istri presiden. Bagai sebuah panggung nyata tak terlihat seperti sebuah laga atau akting, melainkan sikap dingin yang spontan dari para penerima tamu tanpa ketegangan seperti yang telah direncanakan.
    Presiden Bush terbunuh oleh seorang kepala negara, disaksikan oleh ratusan wartawan asing dan lokal, mayatnya pun diangkut oleh para ajudannya. Sampai ketika dinaikkan ke atas helikopter Sikorsky "Black Hawk" Marine One, salah seorang ajudan karena terburu-burunya menaiki helikopter, kepalanya terbentur pintu, dan ….
    ”Bush sudah terbunuh?”, tiba-tiba dia bangun dari tidurnya.
    ”Heh tidur melulu, pake ngigo lagi, si Bush mau nyampe tuh! Kita harus siap-siap!”. Koki yang asli Betawi ini menegur temannya yang tertidur yang bermimpi bahwa Presiden Amerika Serikat George W Bush telah terbunuh. Mereka bersama koki-koki yang lainnya mulai sibuk menyiapkan makanan yang telah dimasak beberapa jam yang lalu.
    ”Aduh, maaf saya tertidur.”
    Tentulah mana mungkin semudah itu presiden dari negara adidaya itu terbunuh.   Bayangkan sebelum presiden itu menginjakkan kakinya di bumi Indonesia saja, sudah ada sejumlah manuver yang dilakuakan helikopter milik Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) untuk mengamankan landasan di Bandara Halim Perdanakusuma. Sampai Kepala Dinas Operasi Lanud Halim Perdanakusuma, Kolonel Gutomo memastikan pada hari ‘H’ dan jam ‘J’ semua kegiatan dapat berjalan lancar. Apalagi kedatangan Bush ke Indonesia dikawal oleh satu kapal induk dari Armada Tujuh AS yang bermarkas di Sasaebo, Jepang, USS Essex, dua helikopter Black Hawk, empat pesawat siluman dan satu pesawat peringatan dini (AWACS) yang akan dioperasikan oleh personel TNI.
    Segala persiapan untuk pengamanan dilakukan termasuk sweeping terhadap pengunjuk rasa penentang kedatangan Presiden AS George W Bush. Kemudian Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat juga menurunkan 700 personil untuk membersihkan rute jalan tol menuju wilayah Bogor. Bahkan kemungkinan bergeraknya jaringan teroris sudah dipantau jauh-jauh hari. Di Bogor sendiri, pengamanan dilakukan sampai batas ring 3 beradius 7 kilometer. Memang Dahsyat!
    ”Kita sudah menyiapkan ini lebih dari sebulan. Jangan sampai gagal! Jagalah kesehatanmu. Kamu sudah terlihat pucat. Jangan sampai orang-orang mulai curiga dengan kita”
    ”Ya, sejak zat ini ditanam ditubuhku, aku mengalami gangguan pencernaan.”
    ”Bertahanlah! Kita pasti akan melakukannya dengan baik. Mari kita lanjutkan pekerjaan kita.”
    Tidak seperti yang diduga, Presiden Bush datang di sore hari. Bahkan sebagian pengunjuk rasa yang sudah berhasil masuk ke ring 2, sedikit demi sedikit membubarkan diri. Walau masih banyak yang bertahan di ring 3.
    Sore itu turun hujan, Bush tiba bersama istrinya disambut hangat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istri. Tanpa ada basa basi menaiki tangga Istana menuju pintu, dan didalamnya sudah menunggu para menteri dan beberapa pengusaha beserta tamu undangan yang siap menyambut. Memasuki ruangan, Yudhoyono memperkenalkan para menterinya kepada Bush, mereka menyalami Bush dengan hangat termasuk di dalamnya Yohanes Surya yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang Olimpiade Fisika Internasional.
    Setelah semua diperkenalkan, Yudhoyono kembali membimbing Bush ke dalam suatu ruangan untuk jamuan. Di sana sudah tersedia masakan-masakan yang sesuai dengan lidah semua peserta dalam pertemuan itu, termasuk lidahnya Presiden Bush. Para pelayan sudah untuk melayani.
    Tiba-tiba ada langkah-langkah kaki yang tidak diharapkan. Pasukan Pengaman Presiden yang memang dari sebelumnya sudah siaga, merangsek pelan menuju langkah tersebut.
    ”Berhenti!”, suara itu begitu pelan bermaksud tidak mengganggu jamuan yang sedang berlangsung.
    ”Saya hanya ingin bersalaman dengan Pak SBY dan Pak Bush.”, suara itu cukup keras sampai terdengar oleh Bush. Yudhoyono pun menjelaskan apa yang terjadi. Dengan inisiatif, Bush menerima koki itu. Hal ini benar-benar menyita perhatian seisi ruangan.
    Koki itu dipanggil oleh Yudhoyono, dan sang koki berjalan menuju Yudhoyono dan Bush setelah seluruh tubuhnya diperiksa oleh Pasukan Pengaman Presiden.
    ”Sore, Pak! Akhirnya saya bertemu juga dengan Bapak.”, tubuh sang koki ini membungkuk sebungkuk-bungkuknya sambil menyium tangan Yudhoyono.
    ”Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?”, tanya Yudhoyono.
    ”Tidak Pak, saya hanya lupa makan karena menunggu saat-saat ini.”, kata-katanya tegas dan senyum begitu lebar. Suasana yang beberapa saat hening kembali ramai.
    Tangan Yudhoyono dilepaskan, dan kini menyalami Bush.
    ”Mister..”, tubuhnya membungkuk. Dengan suara terbata sambil tetap menyalami Bush, ”I am can not speak English, but I…….hate……you.., Sir!!”.
    Seisi ruangan tiba-tiba hening, dan “Duaaar….”. Dua presiden negara besar tewas di dalam sebuah istana. Ledakan itu begitu DAHSYAT.

**************
Cerita fiksi kedua yang kubuat, kritik dan sarannya ditunggu ya….

Pagi itu hujan dan Aku menangis

Posted on December 29th, 2006 in Cerpen by fireman0410syah

Cerita fiksi pertama yang kubuat, mudah-mudahan semakin memantapkan kualitas penulisanku , tentunya dengan kritik dan saran dari teman-teman. Terima kasih telah membacanya.

Pagi itu hujan dan Aku menangis

Pagi
itu hujan. Jam menunjukkan pukul 06.30, seperti biasa kuliah hari ini
akan dimulai pukul 08.00. Aku pun menyiapkan keperluan kuliah, dan
memasukannya ke dalam tas.
Kamarku berada
di lantai atas yang bersebelahan dengan kamar kakak. Tiba-tiba ada
teriakan dari bawah.

Imaaan,
anterin adeknya ke sekolah!”, terdengar suara Bapakku. Ah, tak
biasa kumemanggilnya ”Ayah”.

Aku
terhenyak, tersentak, satu hal yang paling tak kusuka diperintahkan
kepadaku. Aku terdiam, bermaksud mengacuhkan. Tak lama kemudian
terdengar bunyi alarm mobil yang menandakan pintu mobil tak terkunci
lagi, sekaligus memperingatkanku bahwa perintah itu sungguh-sungguh.

Imaaan,
cepet dong, udah telat nih!”, suara itu terdengar lagi.

Iya
sebentar…”, aku gigit geraham ini kencang-kencang, menyimpan api
dalam sekam. Tak terbayangkan. Sambil kuberjalan menyusuri tangga ke
bawah. Kuraih kunci mobil itu. Kunyalakan mesin. Mereka sudah siap di
dalam mobil, pagar sudah terbuka.
Kuacuhkan
semua perkataan Bapakku, tetapi tetap kudengar.

Anterin
Dede dulu terus Oci, baru Bapak.”

Dengan
perlahan kukeluarkan mobil yang berisi empat orang itu. Terdengar
tumbukan-tumbukan hujan yang terjatuh ke atas mobil yang kukendarai.

Jalan
itu begitu lancar, seperti biasa hujan menjadi penghambat bagi
sebagian orang yang tidak memiliki mobil untuk berangkat ke sekolah,
ke kantor, ke tempat kerjanya masing-masing. Padahal hujan itu
menjadi berkah bagi sebagian orang yang mulai kekeringan karena musim
kemarau.

***

Di
sore itu, ”Mah, beli Ovaltine dong….”, saat itu aku berumur 5
tahun mungkin dan sedang disuapi makan di halaman rumah.

Susu
yang kemarin minta dibeli nggak diminum, nanti yang ini juga nggak
diminum lagi?”, Ibuku ini biasa kupanggil ”Mamah”.

Aku
berusaha meyakinkan, tapi kusadari raut mukaku tak begitu meyakinkan.
Dalam hati kecilku pun membenarkan apa yang ditanyakan oleh Ibuku,
jangan-jangan aku tidak akan suka dengan susu ini, jadi tak seperti
biasa, kali ini aku tak menangis walau apa yang kuminta tidak
dikasih.

Di
siang itu,
”Imaan, tidur siang dong!”,
dengan lembut Ibuku berharap.

Aku
sebenarnya malas untuk tidur siang, tetapi karena tidak ada teman
bermain saat itu, aku teringat ranjang yang baru dibeli (bukan tempat
tidur-red). ”Tapi pake ranjang yang itu ya Mah?”. Pastinya aku
memiliki tempat tidur sendiri, dan ranjang itu dibeli untuk saudara
yang datang dan menginap.

Ibuku
mengiakan dan menyiapkan ranjang itu agar aku tidur siang, ”Tidur
ya, Mamah berangkat ngajar dulu.”

Bayangan
itu masih teringat, tak terlepas. Aku memang dekat dengan Ibuku, tak
sedekat dengan Bapakku, jadi tak teringat banyak memoriku bersama
Bapak. Tak sedetil kejadian aku mengingat dengan Ibuku. Dengan
Bapakku, aku teringat ketika memperbaiki lemari bersama, membakar
sate dipojokkan belakang rumah, membuat pagar kebun samping rumah.
Aku ingat kejadian itu, tapi tak kuingat percakapan yang terjadi.
Sedangkan dengan Ibuku, aku teringat ketika aku pulang dari shalat
tarawih bersama teman-teman di masjid dan dengan bangganya aku
mengatakan bahwa aku shalat sampai selesai. Aku teringat ketika aku
mencontohkan bahwa aku sudah bisa shalat sendiri dan ketika Ibuku
meminta aku untuk menunjukkan bagaimana cara shalat dua rakaat sampai
dengan empat rakaat. Aku teringat ketika kami bersepakat agar aku tak
lagi diantarkan lagi ke sekolah TK dengan Omku sebagai gantinya yang
mengantarkan.

Sampai
suatu saat kuteringat, Bapakku mengeluarkan air mata. Dia tak
menangis, tapi mata itu cukup basah terlihat olehku. Tentu saja aku
tak mengerti. Pagi itu aku terbangun dan disekitarku orang-orang
sedang menangis, sepupuku, tetehku, tetapi kakakku tidak, jadi aku
pun tak menangis.

Man,
kesini dulu yuk…”, kakakku pun diajak oleh tetehku ke dalam suatu
ruangan yang kutahu disitu ada Ibuku yang terbaring. Ada Bapakku di
dalam kamar itu, aku disuruh mengucapkan sesuatu. Tentu aku tak
mengerti, awalnya kakakku yang di suruh, kemudian aku.

Cium
Mamah, Man! Bilang nanti Iman nggak nakal lagi, nggak suka berantem
ama kakak, jadi anak yang soleh!”, Bapakku menuntunku mengucapkan
hal itu.

Aduh,
aku tak mengerti, benar-benar tak mengerti.
Kulihat
orang disekitar mengeluarkan air mata, dan kulihat Ibu ku memucat.
Aku tak tahu mengapa harusku katakan itu, jadi kuucapkan dengan
terbata, dan aku pun menciumnya.

Kemudian
aku disuruh keluar dengan kakakku, tetehku yang tadi menuntun. Tak
berapa lama, suara itu semakin banyak terdengar. Ya, suara tangis
itu, tak hanya tetehku yang menangis, bahkan dari orang-orang yang
tak kukenal. Aku tak menangis karena tak tahu kenapa aku harus
menangis. Bahkan ketika tak sengaja teteh kumenangis dan menjambak
rambutku pun aku tak menangis, dan hanya mengatakan ”aduh”,
padahal biasanya jambakan seperti itu akan membuat aku menangis
histeris. Ya, aku tak menangis sampai aku sadar ada yang dimandikan
disana, dishalati, dan dikuburkan, aku pun tetap tak menangis. Walau
aku tahu ada Ibuku di dalamnya.

***

Kuputuskan
untuk masuk jalan tol setelah melewati fly over Tanjung Barat
dan keluar di pintu tol Cilandak. Dede sudah diantar dan kali ini Oci
yang akan diantar. Jam menunjukkan pukul 07.00, menandakan Oci sudah
telat. Bapakku terus mengeluarkan basa-basinya, walau tetap kuacuhkan
tetapi tetap kudengar.

Ocii…”
Bapakku menasehati, ”lain kali bangunnya pagi-pagi biar nggak telat
begini. Biar nanti kak Iman bisa nganterin.”

Kali
ini aku tak tahan untuk mengeluarkan kata-kata, terlalu kelewat manja
menurutku.

”Memang
seharusnya nggak usah dianterin.”

Oo,
memang terlalu pendek pemikiranku saat itu dan terlalu cepat
kata-kata itu keluar pada waktu yang tak tepat.

Ya
udah Oci, besok-besok nggak usah dianterin lagi, kamu jalan sendiri
aja….” suara itu cukup keras tapi tertahan, agak parau, dan
pandangan matanya sangat berubah akibat perkataanku. Bapak ku
menangis. ”Bapak kira sudah berhasil ngajarin kalian selama ini,
ternyata….” tangisan itu ingin meledak sepertinya tapi masih
tertahan.

Aku
pun menatapnya dengan keheranan, perkataan apa yang baru aku
keluarkan sampai membuat Bapak ku menangis. Terang saja aku ikut
menangis.

Untunglah
jalan itu sudah sering ku lalui, sehingga mobil yang kukendarai tetap
stabil walau aku tidak fokus menyupir.

”Dia
kan masih darah daging Bapak!?!” tangisan itu masih tertahan

Perkataanku
tadi sebenarnya hanya ingin mennyentil sedikit, bahwa adikku itu
telalu dimanja. Ibu yang sudah melayaninya tiap hari, menyiapkan
bajunya, menyiapkan sepatunya, membuatkannya susu, dan lain
sebagainya, sampai tak tega aku melihat raut wajahnya, tapi malah dia
seperti itu, yang malas-malasan, acuh, dan tak ada perubahan yang
berarti dari hari ke harinya. Dulu aku meminta pensil karena memang
patah, meminta sabun untuk mandi, atau meminta uang untuk membeli
buku, itu susahnya minta ampun. Sekarang adikku meminta handphone
saja sudah seperti meminta permen. Dulu aku dan kakakku berjalan kaki
pergi ke sekolah, sekarang dengan jarak yang sama adik-adikku harus
diantar oleh ojeg, jika tidak ada harus aku yang mengantarkannya.

”Jadi
kamu dendam sekarang?”

Salah
persepsi rupanya Bapakku ini. Tangisnya pun mereda setelah kukeraskan
lagi tangisku. Tak ada sedikit pun dendam atas perkataanku di dalam
mobil itu. Aku hanya ingin memberikan gambaran perbedaan didikan yang
kami dapat dan hasil yang diperoleh. Aku tak berpikir panjang dengan
segala sudut pandang yang ada. Aku hanyalah aku yang melihat dari
sisiku. Sampai semuanya pun mereda juga di dalam mobil itu. Baru
kusadari bahwa tangisan Bapakku mereda karena mengalah, bukan karena
tangisan itu benar-benar mereda dari dalam hatinya. Baru kusadari
perkataaan-perkataan itu yang awalnya kuanggap salah persepsi, ”Dia
kan masih darah daging Bapak!?!”,
dan ”Jadi kamu dendam
sekarang?”.
Perkataan itu merubah cara pandangku sampai pada
klimaksnya.

Oci
sudah diantar dan Bapakku juga sudah, dengan nasihat-nasihatnya
disepanjang jalan. Aku kembali ke rumah, memarkir mobil, mengambil
tas kuliahku, dan berangkat ke kampus dengan sepeda motorku. Tetapi
apa daya, aku telat untuk jam pertama kuliahku.

Poligami

Posted on December 4th, 2006 in Peoples by fireman0410syah

Sudah dengan penjelasan Aa Gym bepoligami??

klik disini