Wanita seperti Barang…
Cerpen yang ketiga, saran dan kritiknya ya….
Wanita seperti Barang….
Gila!
Ari memang sudah gila. Bayangkan saja, sebulan dia tidak kelihatan
batang hidungnya, sekalinya ketemu mengungkapkan hal yang
tidak-tidak. Dia menganggap wanita seperti barang!!
”Iya
Nu, ternyata wanita seperti barang.”
Berpikir
seribu kali katanya untuk mengungkapkan hal ini. Walau pernyataan ini
kuanggap gila, tapi dia menjelaskan dengan sangat masuk akal sekali.
”Ku
kira kau menghilang untuk mencari pencerahan, evaluasi diri dan akan
membuat gebrakan baru di kampus ini.” ujarku setelah dia
mengungkapkan hal yang cukup gila itu.
”Ibnu….ibnu…kamu
ini, aku tidak menghilang, kita aja yang jarang ketemu.”
Memang
benar apa yang dia bilang, kami jarang ketemu dalam sebulan ini.
Beberapa kali ku lihat dia, tetapi tidak seperti biasa bergabung
dengan teman-teman di kantin. Seperti terburu-buru, itu yang ku lihat
seringkali.
”Kok
bisa sih kamu bilang seperti itu, Ri.”
”Kamu
kan pernah tanya, apa perbedaan antara laki-laki dan ikhwan, nah dari
situlah aku menganalisis.”
Aku
memang pernah menanyakan itu, karena aku juga pernah ditanyakan
demikian oleh seorang teman. Aku hanya ingin tau bagaimana pendapat
Ari tentang laki-laki dan ikhwan. Ternyata jawabannya sama dengan
jawaban awamku di awal. Antara laki-laki dan ikhwan tidak ada
bedanya, yang berbeda hanya di penggunaan bahasa. Toh, ikhwan dalam
bahasa Arab artinya adalah saudara laki-laki di dalam bahasa
Indonesia.
”Beda
Nu, sebenarnya dalam bahasa juga berbeda, tapi yang paling mendasar
bukan itu.” kata temanku saat itu mencoba berteka-teki.
”Apa?”,
aku bertanya lebih lanjut.
”Ikhwan
itu kalau melihat wanita atau akhwat sudah mengerti bahwa dia harus
’menundukkan pandangan’, sedangkan laki-laki kalau melihat wanita
atau akhwat…….”
Dia
tidak melanjutkan jawabannya, dan seakan menyuruh aku yang meneruskan
jawabannya karena menganggap aku sudah tau jawabannya, dan memang aku
sudah mengerti jawaban selanjutnya. Aku yakin Anda pun mengerti
lanjutan jawabannya.
Aku
pun menjelaskan jawaban itu ke Ari saat itu dan dia menganggukkan
kepalanya tanda mengerti.
”Begitu
juga dengan wanita Nu, karena pertanyaan waktu itulah aku menganggap
wanita itu seperti barang.”
”Maksud
kamu?”, aku penasaran dibuatnya.
”Barang
itu ada yang bernilai mahal dan ada yang bernilai murah. Barang yang
mahal itu ada yang dijual mahal, ada juga yang dijual murah. Begitu
juga barang yang murah, ada yang dijual mahal tetapi juga ada yang
dijual murah. Sudah murah, murahan pula. Nah begitu juga dengan
wanita, sama dengan barang.”
”Wah,
kamu ini benar-benar kacau Ri. Di jamin kamu pasti akan menerima
cercaan dan makian dari para wanita kalau kamu mengatakan hal ini
kepada mereka.”
Aku
memang tak habis pikir dengan pikirannya itu, dia menganggap wanita
seperti barang. Barang yang mahal dan yang murah. Katanya yang
membedakan antara keduanya hanya satu, yang berjilbab dan yang tidak
berjilbab. Yang berjilbab bernilai mahal dan yang tidak berjilbab
bernilai murah.
”Coba
Nu kamu pikirin. Tuhan Yang Menciptakan kita ingin membedakan antara
orang yang beriman dan yang kafir dengan shalat. Tuhan juga ingin
membedakan antara laki-laki yang benar-benar beriman dan yang munafik
dengan shalat Isya dan Subuh berjamaah. Walau banyak faktor lainnya”,
dia berhenti sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam, ”Tuhan juga
ingin membedakan wanita yang benar-benar beriman dan yang munafik Nu.
Ya dengan menutup aurat itu, ya dalam hal ini berjilbab. Bahkan
perintah itu ada dalam Al-Quran. Tuhan juga bermaksud memuliakan para
wanita itu dengan menutup aurat itu, tetapi malah mereka membuka
auratnya dengan berbagai alasan. Sekarang siapa yang bernilai mahal,
yang menjadi mulia karena berjilbab untuk menutup auratnya sehingga
leher, kepala, tangan dan kakinya begitu mahal untuk dilihat ATAU
yang tetap membuka auratnya bahkan bermaksud memamerkannya?”,
suaranya agak meninggi ketika bertanya.
”Ah,
tidak begitu juga Ri. Yang berjilbab kadang lebih buruk sifat dan
perilakunya daripada yang tidak berjilbab”, aku coba menyangkalnya
walau aku juga membenarkan apa yang sudah diperintahkan dalam
Al-Quran itu.
”Itulah
dari awal sudah kujelaskan tentang barang. Ada barang yang murah dan
murahan, ya wanita yang tidak berjilbab itu, membuka auratnya bahkan
memang berniat untuk diperhatikan orang, disaksikan orang, agar
dianggap cantik, atau seksi. Aku dengar sendiri kesaksian mereka.
Coba lihat iklan Putri Indonesia! Brand imagenya ’Semua mata
tertuju padamu’. Maksudnya apa tuh? Serasa ingin diperlihatkan
dirinya di segala penjuru dunia. Apa tidak murahan dirinya itu? Ada
juga sih yang tidak menyatakan untuk dianggap seperti itu, tapi dari
perilakunya, dari cara berpakaiannya, sudah terlihat. Bahkan ada
pakaian yang dinamakan you can see. Dulu orang yang memakai
itu dianggap tabu tapi sekarang sudah dianggap biasa. Jadi sudah
murah, murahan pula. Mending cuma ingin diliatin doang, ada juga yang
diam aja dipegang-pegang, bahkan ingin dipegang-pegang! Tau tidak?
Ada juga yang minta dicium itu dianggap lumrah. Apa tidak murahan
yang seperti itu? Jelaslah. Satu ciri yang kulihat ketika tak sengaja
ku tatap wanita seperti ini dan dia tertarik akan kita, dia akan
menatap kamu balik seakan dia mengatakan ’Halo Cowo!’”,
tersenyum sinis dia kulihat dan begitu semangatnya dia menjelaskan
seakan dia ingin ungkapkan semuanya kepadaku, ”Terus ada barang
yang murah dan dijual mahal. Nah, mungkin inilah yang kamu maksud Nu,
wanita tidak berjilbab tapi sifat dan perilakunya lebih baik dari
yang tidak berjilbab”, kembali dia menarik nafasnya dalam-dalam,
”Wanita seperti ini sudah ku jelaskan tadi, seharusnya dia
mengikuti syariat yang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yang
Menciptakannya, dan yang dia yakini sebagai Tuhannya. Memang ada
bahkan banyak orang yang tidak berjilbab tetapi dia begitu menjaga
harga dirinya, dia begitu sopan dan santunnya. Tetapi mengapa dia
tidak ingin menjadi mulia dengan menutup auratnya? Bahkan sampai pada
tingkat mengikuti perintah Tuhannya untuk menutup aurat? Wanita
seperti ini menjadi bernilai murah tentunya, walau masih juga menjual
mahal. Di Indonesia cukup banyak wanita yang sadar bahwa dia harus
berjilbab, tapi karena berbagai alasan, dari alasan keluarga sampai
alasan pekerjaan, akhirnya dia mengurungkan niat untuk berjilbab.
Belum siap kata mereka. Padahal apa sih arti semua lingkungan di
sekitarnya kalau sampai perintah Tuhan dia langgar?”
Orang
ini, kasar kata-katanya, tapi memang baik maksudnya. Aku terus
mendengarkan kata-katanya dengan mengangguk-anggukan kepala tanda
setuju. Walau masih ada yang mengganjal dalam pikiran ku.
”Nah,
ada juga yang bernilai mahal tetapi dijual murah. Yaaa….jadi
murahan juga akhirnya. Perilakunya seringkali lebih baik dari yang
tidak berjilbab. Wanita seperti ini yang dijadikan alasan juga oleh
para wanita tidak berjilbab dengan mengatakan, ’Lihat tuh…apa
pantas berjilbab tapi perilakunya seperti itu? Tidak malu apa dengan
jilbabnya?’, padahal menurut ku, biar bagaimanapun wanita berjilbab
minimal sudah memenuhi syariat yang sudah ditentukan. Jadi yang sudah
berjilbab minimal dosanya sudah tinggal dari perilakunya saja yang
perlu diperbaiki, sedang yang tidak berjilbab….dosanya akan
mengalir terus ketika dia berada diantara laki-laki yang bukan
muhrimnya karena tidak menutup auratnya sehingga terlihat lak-laki.”
”Apa
itu jadi dosa wanita Ri, sedang yang melihat adalah laki-laki?”
”Dua-duanya
Nu, kalau laki-lakinya terus memandangi wanita tersebut! Dan ini
adalah hakikat….”, dengan sigap dia mengeluarkan Al-Qur’an dan
terjemahannya dari dalam tas, satu halaman sudah dia beri tanda ”di
dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31. ’Katakanlah kepada orang
laki-laki yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi
mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’
Katakanlah kepada wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah
mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah
suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami
mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera
saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka,
atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap
wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang
mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’”, dia membaca
dengan artikulasi yang jelas dan mantap, terkesima aku dibuatnya.
”Bagaimana
dengan keluargamu?”
Terperanjat
dia langsung menatapku dalam-dalam, ”Aku katakan hal yang sama
kepada Ibuku, dan dia memakai jilbab. Kukatakan pula kepada kakakku,
dan dia melakukan hal yang sama. Alhamdulillah. Tugas kamu dan tugas
kita semua hanya menyampaikan, hidayah datangnya hanya dari Allah.
Adikku yang belum. Mungkin karena masih SMP. Pikirannya masih belum
dewasa. Selain itu karena tidak dibiasakan dari kecil. Semuanya
memang perlu proses, tidak boleh main paksa. Tapi jangan sampai
dilupakan begitu saja. Terus doanya jangan lupa mintalah kepada
Allah.”
”Bagaimana
dengan bernilai yang mahal tapi menjual mahal Ri?”
”Bernilai
mahal dari segala sisi Nu. Allah memuliakannya sebagai wanita yang
beriman yang mengikuti perintah-Nya. Dalam An-Nisa ayat 124
’Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki
maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke
dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.’ Dalam hal
duniawi sudah jelas siapa yang menghargai tubuhnya dan siapa yang
tidak. Tentunya mereka yang memamerkan tubuhnya lah yang tidak
menghargai tubuhnya. Ada lagi alasan dari wanita yang tidak
berjilbab, kalau dia tidak kelihatan kecantikannya maka dia akan
sulit dapat jodoh. Padahal Allah sudah menjanjikan di dalam Al-Qur’an
surat An-Nur ayat 26, ’wanita-wanita
yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik
adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)… Bagi mereka ampunan
dan rezki yang mulia (surga)’. Terus kurang apa lagi? Mereka semua
bernilai mahal karena memenuhi perintah Allah dan menghargai
tubuhnya. Sedang yang kumaksud menjual mahal karena mereka
berperilaku layaknya seorang wanita yang beriman nan mulia, yang
tidak memanfaatkan jilbab dan pakaiannya untuk mencari dunia. Mereka
percaya akan janji-janji Allah, bahwa jodoh itu sudah ditentukan,
sehingga mereka berperilaku dengan baik dan santun. Satu ciri jika
tak sengaja kamu saling tatap dengannya, mereka akan menundukkan
pandangannya seakan dia mengatakan ’jangan kau tatap wajahku, setan
akan mengganggumu sampai kau terjerumus dalam jebakannya’. Dahsyat
bukan? Dia bernilai mahal karena jilbabnya, dan menjual mahal dengan
perilakunya.”
”Kamu
mungkin benar Ri. Tapi janganlah kamu sebut wanita itu seperti
barang!”
”Kalau
tidak begitu siapa yang mau mendengarkan pendapatku ini. Aku juga
tidak tahu harus mengumpamakannya seperti apa. Terlalu sederhana
menurutku kalau hanya disebut akhwat atau bukan. Yang paling penting
kita terus berusaha menyampaikan. Dengan trik-trik tertentu
mudah-mudahan hal ini tersampaikan kepada mereka yang belum sadar.
Kalau hidayah sih cuma datang dari Allah aja. Tetapi ingat Nu, kalau
ada orang yang mendapat hidayah melalui kita maka itu lebih baik
bagi kita daripada dunia dan seisinya. Aku tahu kamu suka menulis, mungkin kau
bisa tuliskan hal ini untuk disampaikan melalui majalah, koran,
buletin, atau internet. Coba kamu bayangkan, semakin cepat dan banyak
kau sebarkan, semakin cepat dan banyak orang mendapat hidayah melaluimu. Insya
Allah. Tunggu apa lagi??”
http://fireman0410syah.multiply.com/journal/item/19
http://fireman0410.blogspot.com/