Sore itu di jalan
yang amat panjang, jalan tol Merak-Jakarta, di dalam sebuah mobil yang
kukemudikan. Adik-adikku tertidur pulas, lelah sehabis bermain dan
berenang di pantai Anyer. Aku telah menjalani hidup ini dengan penuh
liku, kadang sampai pada titik jenuh, kadang sampai tingkat ketegangan
yang tinggi, kadang sampai ke dalam suasana yang sejuk seperti saat
ini. Kulihat sepintas dari kaca spion tengah, Ibuku yang sedang menatap
pemandangan sawah yang mulai menguning ditaburi oleh cahaya matahari
sore yang menimbulkan keindahan tersendiri. Ayahku yang menatap tajam
ke depan, mengawasi jalan dan juga kemudiku, duduk disebelah kiriku.
Aku
berpikir sejenak, ”saatnya kah kutanyakan sekarang?”. Aku menunggu
saat-saat seperti ini. Saat ketika kami -aku, Ibu, dan Ayahku- tidak
memikirkan yang baru saja dikerjakan dan tidak memikirkan apa yang akan
kami kerjakan. Pikiran kami hening, hanya berpikir tentang apa yang
sedang kami lakukan sekarang. Bagaimana aku bisa mengetahui yang
seperti ini? Ah, memang irama hidup yang membuat kami saling mengenal
satu sama lain dalam anggota keluarga walaupun diantara kami tidak ada
yang bicara
”Ayah”, kupecah suasana. ”Boleh nggak Armin nikah?”
Ayahku
menoleh ke arahku tanpa ekspresi. Ibuku yang duduk dibelakang Ayahku
juga menoleh ke arahku, aku tak melihatnya tapi aku bisa merasakannya
karena jarakku dengannya tak terlalu jauh. Wajar saja sikap mereka
seperti itu, aku baru saja dinyatakan lulus kuliah setelah aku
selesaikan skripsi minggu lalu dan tiga minggu lagi aku akan wisuda.
”Mau menikah sama siapa?”, pertanyaan Ayahku datar, tidak menolak, tidak juga menerima, masih menganggap aku bercanda mungkin.
”Ya belum ada lah, kalau sudah diizinin, baru Armin cari calonnya. Jadi boleh nggak?”
”Coba tanya Mamah tuh! boleh nggak?”
”Boleh
Mah?”, sebenarnya tanpa disuruh pun aku akan menyakan juga kepada Ibuku
kalau Ayahku sudah menjawab boleh atau tidaknya, tetapi bahkan belum
dijawabpun aku sudah disuruh bertanya.
”Boleh-boleh aja kalau Ayah bilang boleh. Sudah tanya kakakmu Min?”
Sudah
kusiapkan segalanya sampai kudapat kesempatan seperti saat ini. Aku
memang punya satu kakak perempuan bertaut satu tahun umurnya dariku.
Dia tidak ikut di liburan kali ini. Istilah yang saya pakai, dia lebih
suka”jaga rumah” dari pada ikut berpergian.
Aku
sudah tanyakan hal ini kepada kakakku karena kutahu hal ini akan
menjadi sebuah pertanyaan kelak. Pertanyaan yang dia ajukan pun sama
seperti Ayahku, tentunya dengan jawaban yang sama pula. Sampai akhirnya
kujelaskan semua, dia pun mengijinkan, ”Boleh aja kalau Ayah dan Mamah
bilang boleh.”
***
Aku tak pernah pacaran. High quality jomblo
kata orang-orang. Apapun yang mereka katakan, aku punya alasan
tersendiri mengapa aku melakukan itu. Aku memang dekat dengan beberapa
wanita, tetapi hanya sebatas teman. Sebagaimana laki-laki yang lain aku
pun punya hasrat dan suka dengan beberapa wanita. Namun setiap orang
punya ilmu dan wawasan yang berbeda, punya hati dan perasaan yang
berbeda, dan punya pemahaman dan pendapat yang berbeda. Ya, sampai ku
putuskan aku akan pacaran kalau sudah menikah, pacaran dengan istriku
tentunya. Ku cari ilmu dan wawasan untuk persiapan, ku pupuk
kepercayaan orang tua, ku bangun usaha untuk menghidupi keluarga ku
kelak, sampai ku siap untuk mendapatkan pendampingku.
”Kamu yakin Min?”, tanya temanku memastikan.
Aku
hanya tersenyum, ku rasa sudah berulang kali menjelaskan semuanya,
memastikan segalanya. Aku akan menikah dengan wanita pilihanku. Tetapi
aku ingin melewati proses itu. Aku ingin proses ta’aruf (mengenal) itu
kulalui, karena tak sepenuhnya kukenal dirinya. Aku ingin temanku ini
membantuku dalam proses ini karena dia kupercayai untuk memutuskan juga
apakah wanita ini layak bagiku.
Wanita
ini sudah ku kenal sejak SMA, tetapi hanya setahun. Aku tidak terlalu
mengenal dirinya, tetapi aku tahu tabiatnya yang sangat berbeda dari
wanita lainnya. Lembut, santun, bicara seperlunya, tentulah sangat
berbeda dengan wanita kebanyakan. Sempat kunyatakan perasaanku
kepadanya. Hebatnya dia tidak menolak dan tidak menerima. Sampai aku
pun ingin melupakannya.
Ya,
aku manusia yang punya akal. Bertambah ilmu dan wawasan, sudah
seharusnya bertambah pula tingkat iman dan ketaqwaan. Aku berubah, dan
kuharap memang perubahan itu ke arah yang lebih baik. Aku menyesali
beberapa hal dalam hidupku, dan akupun menyadari beberapa hal yang
harus kulakukan.
Selama
perubahan itu pula aku tetap menjaga komunikasi dengannya, dengan
fasilitas SMS tanpa pernah mendengar suaranya. Awalnya sebulan beberapa
kali, kemudian sebulan hanya sekali, sampai akhirnya setahun mungkin
hanya tiga kali aku berkomunikasi dengannya. Aku pun tahu perubahan
yang ada pada dirinya. Perubahan yang lebih baik pastinya. Perubahan
yang tanpa pengaruhku tentunya.
”Dia memang layak untukmu!”, kali ini temanku yang memastikan.
Penilaianku
tak salah, tetapi aku akan tetap melakukan ta’aruf itu. Aku harus
mengenalnya sejauh mungkin. Aku ingin mengikuti Nabiku, aku ingin
menikahinya karena agamanya. Walau aku tahu perubahan yang ada pada
dirinya, tetapi aku tidak mengetahui sepenuhnya.
Sekali
lagi aku memastikannya, aku akan menikahinya. Kemudian bertemu dengan
keluarganya, menentukan hari, tanggal, dan menentukan segalanya. Aku
pun melangsungkan akad nikah dan kemudian hidup bahagia bersamanya.
”Dan itu hanya impian?” adikku yang pria ini bertanya sinis.
”Ya, seperti yang kau tahu.”
”Ya,
kenapa? Kenapa kakak masih belum menikah? Bukankah indah impian itu?”.
Dia bertanya dengan penuh hasratnya, menyesali keputusan yang telah
kuambil. Di umurku yang sudah berkepala tiga ini, aku masih juga belum
memutuskan untuk menikah. Bahkan adik-adikku mendahuluiku.
”Kamu ingat di sore itu di jalan yang amat panjang, di jalan tol dari Anyer menuju Jakarta. Kamu tertidur pulas.”
”Memangnya apa yang terjadi di dalam mobil itu?”, suaranya kini pelan dan berbicara perlahan.
”Kukira
Ayah akan mengizinkanku untuk menikah… Tetapi ternyata tidak. Ayah
bilang aku harus mapan dulu agar aku bisa menghidupi anak dan istriku
kelak. Selain itu aku dilarang mendahului kakak dengan berbagai
alasan-alasannya. Aku beri penjelasan sebisa mungkin di dalam mobil itu
tetapi tidak berhasil. Beberapa haripun aku melakukan pendekatan
kepadanya juga tak berhasil. Sampai kuputuskan untuk menghormati Ayah,
karena aku sangat berharap mendapat restu darinya. Tetapi apalah arti
kemapanan itu. Sampai sekarang aku masih belum merasa mapan atas apa
yang aku miliki. Aku merasa selalu sibuk untuk mengejar kemapanan itu.
Aku merasa tak ada waktu selain untuk bekerja, bekerja dan bekerja.
Sampai aku memang lupa dengan impianku itu. Sampai aku tak lagi
memikirkan itu lagi. Sampai ada yang mampu menjelaskan kepadaku untuk
apa aku harus menikah??!?”
http://fireman0410syah.multiply.com/profile