Aku yang tak pernah berubah

Posted on June 24th, 2007 in About Me by fireman0410syah

Aku yang tak pernah berubah

Jika tak ada mereka, teman-temanku yang
mengingatkanku akan diriku, mungkin tak ada yang ku ketahui tentang
diriku. Mungkin aku akan termasuk orang yang tidak tahu apa yang aku
tidak tahu.

Ada yang terbuka mengatakan bahwa dia
tidak suka padaku karena perbuatanku yang bla bla bla. Ada yang
berusaha menegur dengan halus tentang ketidaksukaannya padaku. Ada
yang secara langsung, menusuk langsung ke dalam hati, ada juga yang
dengan candaan. Ada yang menggunakan kalimat retoris yang akhirnya
membuat aku berdebat dengannya. Pada intinya mereka semua
menyayangiku dengan menegurku.

Seringkali perbuatan yang aku kira
hanya luapan emosiku sesaat ternyata berbekas cukup lama pada
teman-temanku, terpendam, bagai api dalam sekam, dan ketika sekam itu
terbuka sedikit saja, maka meledak-ledaklah emosi itu keluar.

Lain kali kalo
ane punya koran ga akan kasih pinjem ke ente”

Bingung juga ketika
seorang teman mengatakan ini kepada ku. Tanpa ekspresi!

Setelah ku tanya
alasannya, tahulah aku bahwa dia kecewa terhadap sikap ku yang tidak
amanah menjaga koran yang kupinjam dari temanku yang lain.
Tanpa
kusadari pula ternyata aku orang yang keras kepala juga. Sudah tahu
aku salah masih membantah pula.

“Kaya ente pernah ngasih pinjem koran
aja Her.”

Terdiam beberapa saat. Berkecamuk juga
dalam hati ini, apa yang baru saja kuperbuat. Dan akhirnya kusadari,
bahwa aku salah. Dan ku tahu karena ada yang memberitahu secara tidak
langsung. Aku yang tidak bisa menjaga barang. Aku
yang tidak mau mengalah. Aku yang egois yang hanya memikirkan diriku
sesaat, tidak melihat kepentingan orang lain. Tak ku baca sikapnya
dari awal yang memang tanpa ekspresi, akan ketidaksukaannya terhadap
sikapku dari tadi. Melempar-lempar koran, memaki-maki koran, dan
puncaknya ketika seorang teman sedang membaca koran, aku pukul
korannya.

Tak kusadari sifatku ini.
Aku yang tak pernah berubah.

Teringat ketika
seorang teman membawa cartridge printer yang akan dia isi
dengan tinta. Aku memperlakukannya dengan seenak hati, walau ku tahu
tak melewati batas kewajaran sehingga tidak akan merusak cartridge
itu. Tapi aku lupa bahwa dia menjaganya dengan sangat hati-hati, dan
aku bukan malah menyamakan hati, malah menghardiknya. Apakah ini aku
yang tak pernah berubah?

Setiap kejadian
setiap pelajaran. Setiap ku ambil hikmahnya. Tak pernah menyatu dalam
jiwa untuk setiap kejadian berikutnya. Belajar dari masalah. Berbuat
yang lebih baik lagi. Ah, apakah aku harus dikucilkan dulu baru bisa
merasa seperti ini? Apakah aku harus merasakan penderitaan dulu, baru
bisa merasakan kenikmatan yanhg sebenarnya? Apakah aku bisa
memotivasi orang lain dengan jiwaku yang seperti ini? Aku yang
sombong, aku yang tak pernah berubah. Aku yang selalu mempelajari
diriku dan gagal untuk memperbaikinya. Aku yang merasa sudah tahu
bahwa aku telah mengetahui yang sebenarnya, ternyata hanyalah manusia
yang perlu diberi tahu tentang apa yang harus ku tahu dan tentang apa
yang tidak ku tahu.

http://fireman0410syah.multiply.com/profile 

Hidup ini Memang Harus Bisa Dilogikakan

Posted on June 22nd, 2007 in Analisa by fireman0410syah

Logika, apa sih logika? Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos)
yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata
dan dinyatakan dalam bahasa.1] Lebih lanjut logika adalah sesuatu yang
masuk akal. Dalam hukum fisika, maka apabila ada aksi maka pasti ada
reaksi, sebaliknya apabila ada reaksi pasti sebelumnya ada aksi. Tidak
jauh berbeda dengan hukum sebab akibat, apabila ada akibat pasti ada
sebabnya, begitu juga sebaliknya suatu penyebab pasti menghasilkan
akibat. Cara berpikir yang sederhana bukan? Penuh logika bukan?

Lalu
bagaimana dengan hidup ini? Apakah memang benar tidak bisa dilogikakan?
Apakah hidup ini tidak masuk akal? Memangnya buat apa Anda hidup?
Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar dalam otak saya sampai dapat
mengambil kesimpulan bahwa hidup ini memang penuh dengan logika.

Hidup ini harus bisa dilogikakan….

Saya
ingin menceritakan kejadian sore tadi ketika saya melewati sungai
Ciliwung. Saya melihat sebuah gelondongan kayu besar terbawa arus
sungai. Tiba-tiba gelondongan kayu tersebut terpotong-potong dengan
sendirinya menjadi potongan-potongan kayu. Kemudian potongan-potongan
kayu tersebut membentuk sebuah pondasi di sungai. Beberapa potongan
kayu menjadi lantai, tiang, jendela, pintu, dinding kayu, dan akhirnya
membentuk sebuah rumah. Rumah yang beratapkan kayu pula. Rumah itu
sangat indah dan terlihat kokoh berdiri tegak di atas sungai. Hebatnya
rumah itu jadi dengan sendirinya. Terbentuk dengan sendirinya tanpa ada
yang membuat. Apakah Anda percaya dengan cerita saya? Pasti tidak.
Karena tidak mungkin rumah itu jadi dengan sendirinya menjadi rumah
yang seperti digambarkan tadi. Haruslah ada yang membuatnya, haruslah
ada yang merancangnya bukan?

Begitu
juga dunia ini. Pasti ada yang merancangnya, ada yang mendesainnya, ada
yang membuatnya, ada yang mengaturnya. Sehingga terciptalah kehidupan
di bumi ini. Pasti ada Zat yang melakukan itu semua. Mungkinkah
manusia? Tidak mungkin. Karena tidak mungkin Zat yang menciptakan dunia
dan isinya ini sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Ya kita percaya. Pasti
ada yang lebih berkuasa dari pada manusia yaitu Tuhan. Pasti ada Tuhan
yang menciptakan semua ini. Bisa dilogikakan bukan.
Tuhan
yang kita miliki pasti lebih mengetahui segala sesuatu dari apa yang
kita ketahui. Tuhan yang kita miliki pasti lebih berkuasa dari setiap
orang yang berkuasa di muka bumi ini. Tuhan yang kita miliki tidak
perlu turun ke muka bumi ini untuk mengatur manusia yang diciptakan-Nya
karena dia berkuasa atas segala sesuatunya. Tuhan yang kita miliki
tidak perlu tersiksa menebus dosa setiap hamba-hambaNya, karena Dia
hanya cukup mengampuni dosa hambaNya saja. Masuk akal bukan?

Hidup ini penuh dengan logika….

Ketika
seorang Andrie Wongso menjadi seorang Motivator No.1 di Indonesia,
apakah itu berawal dari seorang pemalas yang menjalani hidupnya? Tentu
tidak. Dia meyakini bahwa sukses adalah miliknya dan action
adalah sebuah kekuatan untuk menjadikan impian menjadi kenyataan. Tidak
ada tindakan maka tidak ada yang terjadi. Awalnya kuli panggul, mencoba
menjadi pemain film laga di Taiwan, usaha serabutan, sampai menjadi
motivator sekarang ini adalah sebuah proses yang panjang yang pasti
dijalani dengan sebuah tujuan yang jelas. Dijalani dengan penuh
semangat untuk mengejar target-target dan impian. Walau kita tahu semua
itu yang mengendalikan adalah Tuhan. Tapi ingat, Tuhan pun berkata
bahwa Dia tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu mau
merubahnya. Dan Andrie Wongso mengerti hal ini, dia tidak akan berubah
menjadi sukses, kalau dia hanya berdiam diri saja merenungi setiap
mimpi-mipinya. Lalu apakah sukses itu terjadi begitu saja? Itulah
proses yang harus dijalani.

Hidup ini tak mungkin tak berlogika…..

Ketika seorang teman mengatakan bahwa hidup ini tak bisa dilogikakan, maka secara tidak langsung itu akan membentuk sebuah frame berpikir orang-orang pemalas. Yang mau semuanya serba instan, serba sim salabim.
Apakah mungkin kita bisa masuk sebuah perguruan tinggi terkemuka
apabila kita malas-malasan dalam menghadapi ujian masuk perguruan
tinggi? Pasti harus ada yang diusahakan. Pasti ada proses yang harus
dijalani. Misal, mulai dari mendaftar sebagai peserta ujian, mengetahui
nomor urut peserta, survey lokasi ujian, datang ke tempat ujian itu
sendiri, mengisi ujian dengan cara yang tepat, melihat hasil ujian, dan
segalanya terus berlanjut. Satu dari langkah tersebut tidak dijalani,
pasti berbeda pula hasil dari semua proses tersebut. Katakanlah dia
tidak melihat atau acuh terhadap hasil ujian tersebut karena perasaan
yang pesimis, padahal dia termasuk orang yang lulus dalam ujian
tersebut, apa mungkin dia bisa menjalani proses selanjutnya? Pasti
sudah lain cerita.

Jadi
teringat, ketika seorang teman wanita bernadzar untuk memakai jilbab
jika ia masuk perguruan tinggi negeri. Tetapi usaha yang dilakukan nol,
bahkan menjawab soal ujian dengan asal-asalan. Tentu hal ini tidak
sebanding dengan harapannya. Hasilnya pun nol besar. Tidak ada proses
yang dijalani. Berdoa tanpa ikhtiar, tidak ada rumusnya. Ikhtiar itu
mutlak nilainya.

Saya
mencoba merunut-merunut bagaimana saya bisa masuk kedalam perguruan
tinggi negeri sampai saya setuju dengan orang yang berpendapat bahwa
hidup ini memang penuh dengan pilihan. Awalnya tentu saya berusaha
dengan belajar yang maksimal. Sampai saya diputuskan oleh seorang
pembimbing bahwa kemampuan saya tidak akan masuk ke perguruan tinggi
negeri di Jakarta atau UI. Tapi saya berusaha lebih maksimal. Dengan
memperkirakan hasil try out yang terus mengalami kenaikan, saya
memilih dua pilihan yang dua-duanya berada di UI, tentu dengan
strategi. Yaitu dengan memilih pilihan yang kurang diminati oleh
pemilih ditahun sebelumnya tetapi pilihan itu tetap yang saya sukai.
Akhirnya memang nilai saya tetap mengalami kenaikan, tapi tidak sesuai
harapan karena tidak memenuhi target untuk mendapat pilihan pertama.
Tetapi strategi saya berhasil, ternyata peminatnya masih sedikit
seperti tahun sebelumnya sehingga saya mendapat pilihan pertama walau
dengan nilai yang pas-pasan. Semua penuh logika bukan? Apakah ini suatu hal yang tanpa proses?

Hidup ini tak bernilai jika tak berlogika

Seorang
yang saya hormati mengatakan dengan tegas, ”hidup ini memang tak bisa
dilogikakan”. Dia bercerita suatu kejadian di kantornya ketika banyak
tanggungan atau katakanlah hutang (utang atau hutang sih?-red) yang
harus dibayar pada waktunya. Awalnya dia merasa menyadari banyak orang
kaya yang stress karena kekayaannya, padahal banyak orang juga stress
karena ingin kaya. Karena dia juga merasakan, ketika omzet
perusahaannya mencapai ratusan juta, tapi dia sendiri tidak pernah
melihat uang sejumlah itu di depan matanya. Uang masuk ke rekening,
atau lewat perantara, atau masuk bendahara, atau dijadikan pinjaman,
kemudian uang itu keluar melalui gaji pegawai, tanggungan lain, atau
hutang-hutang, sehingga dia hanya mengatur uang itu tanpa melihat
bentuk uang itu sendiri. Sampai ketika dia harus mengeluarkan uang
untuk tanggungan-tanggungan itu tetapi uang yang masuk belum juga ada,
sehingga ia ketar-ketir telepon kesana-kemari sampai akhirnya
tanggungan itu terlunasi juga. Hebatnya dia melakukan itu hanya dengan
sebuah alat di genggaman tangannya, sambil melakukan kegiatan lain di
puncak. Pertanyaannya adalah apakah ini sesuatu yang tak bisa
dilogikakan?? Kecuali dia tidak berusaha untuk melunasi tanggungannya
dengan menelepon kesana-kemari kemudian hutang itu terlunasi dengan
sendirinya, maka saya setuju bahwa hidup ini memang tak bisa
dilogikakan.

Sampai
disini sebenarnya tulisan ini sudah selesai dibuat dari minggu yang
lalu. Namun ada yang terganjal di dalam pikiran saya bahwa tetap akan
ada orang yang menganggap di dalam hidup ini sesuatu yang tak bisa
dilogikakan. Akhirnya saya pun sharing dengan beberapa teman
tentang ’hidup yang tak bisa dilogikakan’ ini, kemudian merenunginya,
berpikir sejenak, menganalisis, sampai saya menyimpulkan bahwa
pernyataan akan sesuatu hal yang tak bisa dilogikakan itu akan tetap
ada. Entahlah tentang hidup yang tak bisa dilogikakan atau tentang hal
lainnya, hal itu akan tetap ada. Tergantung dari sudut mana mereka
berpikir. Tergantung sampai batas mana tingkat ilmu dan wawasan yang
mereka miliki. Tergantung seberapa besar keinginan mereka memecahkan
misteri-misteri yang ada. Tergantung seberapa jauh mereka menganalisa
suatu hal yang tak bisa dilogikakan tersebut. Misalnya, ketika dahulu
orang mengatakan tidak mungkin untuk terbang, tetapi sekarang dengan
terus mencari cara untuk terbang dengan ilmu yang juga terus
dikembangkan, akhirnya manusia bisa terbang bahkan melebihi kecepatan
suara. Ketika dahulu orang menganggap tidak mungkin untuk pergi ke
belahan dunia lain tanpa membawa uang kontan tetapi cukup dengan
membawa sebuah kartu saja sudah bisa berbelanja di belahan dunia lain
itu dan sekarang kenyataannya amatlah mudah. Ketika pengikut Muhammad
diawal-awal dakwahnya hampir kembali murtad karena ketidakpercayaan
mereka bahwa Muhammad saw telah melakukan Isra Miraj, tetapi seorang
Abu Bakar ra langsung mempercayai begitu saja, tentu dengan tingkat
keimanan yang pasti berbeda, juga tentu dengan cara berpikir yang penuh
dengan logika. Anda percaya?!?

Maka
saya berani menyatakan bahwa sesuatu hal yang terjadi pasti bisa
dilogikakan oleh akal kita, sampai waktu yang akan memisahkan
segalanya. Bahkan keberadaan jin yang ada di sekitar kita, malaikat
yang tidak terlihat oleh kita, surga dan neraka yang tidak pernah kita
rasakan, keberadaannya pun masih bisa dilogikakan.

Ternyata hidup ini memang harus bisa dilogikakan!

Sore Itu Di Jalan Yang Amat Panjang

Posted on June 17th, 2007 in Cerpen by fireman0410syah

Sore itu di jalan
yang amat panjang, jalan tol Merak-Jakarta, di dalam sebuah mobil yang
kukemudikan. Adik-adikku tertidur pulas, lelah sehabis bermain dan
berenang di pantai Anyer. Aku telah menjalani hidup ini dengan penuh
liku, kadang sampai pada titik jenuh, kadang sampai tingkat ketegangan
yang tinggi, kadang sampai ke dalam suasana yang sejuk seperti saat
ini. Kulihat sepintas dari kaca spion tengah, Ibuku yang sedang menatap
pemandangan sawah yang mulai menguning ditaburi oleh cahaya matahari
sore yang menimbulkan keindahan tersendiri. Ayahku yang menatap tajam
ke depan, mengawasi jalan dan juga kemudiku, duduk disebelah kiriku.
   

Aku
berpikir sejenak, ”saatnya kah kutanyakan sekarang?”. Aku menunggu
saat-saat seperti ini. Saat ketika kami -aku, Ibu, dan Ayahku- tidak
memikirkan yang baru saja dikerjakan dan tidak memikirkan apa yang akan
kami kerjakan. Pikiran kami hening, hanya berpikir tentang apa yang
sedang kami lakukan sekarang. Bagaimana aku bisa mengetahui yang
seperti ini? Ah, memang irama hidup yang membuat kami saling mengenal
satu sama lain dalam anggota keluarga walaupun diantara kami tidak ada
yang bicara

 

Ayah”, kupecah suasana. ”Boleh nggak Armin nikah?”

 

Ayahku
menoleh ke arahku tanpa ekspresi. Ibuku yang duduk dibelakang Ayahku
juga menoleh ke arahku, aku tak melihatnya tapi aku bisa merasakannya
karena jarakku dengannya tak terlalu jauh. Wajar saja sikap mereka
seperti itu, aku baru saja dinyatakan lulus kuliah setelah aku
selesaikan skripsi minggu lalu dan tiga minggu lagi aku akan wisuda.

 

Mau menikah sama siapa?”, pertanyaan Ayahku datar, tidak menolak, tidak juga menerima, masih menganggap aku bercanda mungkin.

 

”Ya belum ada lah, kalau sudah diizinin, baru Armin cari calonnya. Jadi boleh nggak?”

 

Coba tanya Mamah tuh! boleh nggak?”

 

Boleh
Mah?”, sebenarnya tanpa disuruh pun aku akan menyakan juga kepada Ibuku
kalau Ayahku sudah menjawab boleh atau tidaknya, tetapi bahkan belum
dijawabpun aku sudah disuruh bertanya.

 

”Boleh-boleh aja kalau Ayah bilang boleh. Sudah tanya kakakmu Min?”

 

Sudah
kusiapkan segalanya sampai kudapat kesempatan seperti saat ini. Aku
memang punya satu kakak perempuan bertaut satu tahun umurnya dariku.
Dia tidak ikut di liburan kali ini. Istilah yang saya pakai, dia lebih
suka”jaga rumah” dari pada ikut berpergian.

 

Aku
sudah tanyakan hal ini kepada kakakku karena kutahu hal ini akan
menjadi sebuah pertanyaan kelak. Pertanyaan yang dia ajukan pun sama
seperti Ayahku, tentunya dengan jawaban yang sama pula. Sampai akhirnya
kujelaskan semua, dia pun mengijinkan, ”Boleh aja kalau Ayah dan Mamah
bilang boleh.”

 

***

 

Aku tak pernah pacaran. High quality jomblo
kata orang-orang. Apapun yang mereka katakan, aku punya alasan
tersendiri mengapa aku melakukan itu. Aku memang dekat dengan beberapa
wanita, tetapi hanya sebatas teman. Sebagaimana laki-laki yang lain aku
pun punya hasrat dan suka dengan beberapa wanita. Namun setiap orang
punya ilmu dan wawasan yang berbeda, punya hati dan perasaan yang
berbeda, dan punya pemahaman dan pendapat yang berbeda. Ya, sampai ku
putuskan aku akan pacaran kalau sudah menikah, pacaran dengan istriku
tentunya. Ku cari ilmu dan wawasan untuk persiapan, ku pupuk
kepercayaan orang tua, ku bangun usaha untuk menghidupi keluarga ku
kelak, sampai ku siap untuk mendapatkan pendampingku.

 

”Kamu yakin Min?”, tanya temanku memastikan.

 

Aku
hanya tersenyum, ku rasa sudah berulang kali menjelaskan semuanya,
memastikan segalanya. Aku akan menikah dengan wanita pilihanku. Tetapi
aku ingin melewati proses itu. Aku ingin proses ta’aruf (mengenal) itu
kulalui, karena tak sepenuhnya kukenal dirinya. Aku ingin temanku ini
membantuku dalam proses ini karena dia kupercayai untuk memutuskan juga
apakah wanita ini layak bagiku.

 

Wanita
ini sudah ku kenal sejak SMA, tetapi hanya setahun. Aku tidak terlalu
mengenal dirinya, tetapi aku tahu tabiatnya yang sangat berbeda dari
wanita lainnya. Lembut, santun, bicara seperlunya, tentulah sangat
berbeda dengan wanita kebanyakan. Sempat kunyatakan perasaanku
kepadanya. Hebatnya dia tidak menolak dan tidak menerima. Sampai aku
pun ingin melupakannya.

 

Ya,
aku manusia yang punya akal. Bertambah ilmu dan wawasan, sudah
seharusnya bertambah pula tingkat iman dan ketaqwaan. Aku berubah, dan
kuharap memang perubahan itu ke arah yang lebih baik. Aku menyesali
beberapa hal dalam hidupku, dan akupun menyadari beberapa hal yang
harus kulakukan.

 

Selama
perubahan itu pula aku tetap menjaga komunikasi dengannya, dengan
fasilitas SMS tanpa pernah mendengar suaranya. Awalnya sebulan beberapa
kali, kemudian sebulan hanya sekali, sampai akhirnya setahun mungkin
hanya tiga kali aku berkomunikasi dengannya. Aku pun tahu perubahan
yang ada pada dirinya. Perubahan yang lebih baik pastinya. Perubahan
yang tanpa pengaruhku tentunya.

 

”Dia memang layak untukmu!”, kali ini temanku yang memastikan.

 

Penilaianku
tak salah, tetapi aku akan tetap melakukan ta’aruf itu. Aku harus
mengenalnya sejauh mungkin. Aku ingin mengikuti Nabiku, aku ingin
menikahinya karena agamanya. Walau aku tahu perubahan yang ada pada
dirinya, tetapi aku tidak mengetahui sepenuhnya.

 

Sekali
lagi aku memastikannya, aku akan menikahinya. Kemudian bertemu dengan
keluarganya, menentukan hari, tanggal, dan menentukan segalanya. Aku
pun melangsungkan akad nikah dan kemudian hidup bahagia bersamanya.

 

Dan itu hanya impian?” adikku yang pria ini bertanya sinis.

 

”Ya, seperti yang kau tahu.”

 

”Ya,
kenapa? Kenapa kakak masih belum menikah? Bukankah indah impian itu?”.
Dia bertanya dengan penuh hasratnya, menyesali keputusan yang telah
kuambil. Di umurku yang sudah berkepala tiga ini, aku masih juga belum
memutuskan untuk menikah. Bahkan adik-adikku mendahuluiku.

 

”Kamu ingat di sore itu di jalan yang amat panjang, di jalan tol dari Anyer menuju Jakarta. Kamu tertidur pulas.”

 

Memangnya apa yang terjadi di dalam mobil itu?”, suaranya kini pelan dan berbicara perlahan.

 

Kukira
Ayah akan mengizinkanku untuk menikah… Tetapi ternyata tidak. Ayah
bilang aku harus mapan dulu agar aku bisa menghidupi anak dan istriku
kelak. Selain itu aku dilarang mendahului kakak dengan berbagai
alasan-alasannya. Aku beri penjelasan sebisa mungkin di dalam mobil itu
tetapi tidak berhasil. Beberapa haripun aku melakukan pendekatan
kepadanya juga tak berhasil. Sampai kuputuskan untuk menghormati Ayah,
karena aku sangat berharap mendapat restu darinya. Tetapi apalah arti
kemapanan itu. Sampai sekarang aku masih belum merasa mapan atas apa
yang aku miliki. Aku merasa selalu sibuk untuk mengejar kemapanan itu.
Aku merasa tak ada waktu selain untuk bekerja, bekerja dan bekerja.
Sampai aku memang lupa dengan impianku itu. Sampai aku tak lagi
memikirkan itu lagi. Sampai ada yang mampu menjelaskan kepadaku untuk
apa aku harus menikah??!?”

 

http://fireman0410syah.multiply.com/profile